Lonjakan harga solar akibat konflik di Timur Tengah mulai menghantam industri perikanan di Samut Sakhon pada Rabu (25/3), salah satu pelabuhan ikan terbesar di Thailand. Para nelayan memperingatkan aktivitas melaut bisa terhenti dalam beberapa hari ke depan jika tidak ada intervensi pemerintah.
Lebih dari separuh kapal penangkap ikan di pelabuhan itu dilaporkan sudah tidak beroperasi. Sementara kapal yang masih melaut diperkirakan juga akan segera berhenti karena biaya operasional yang semakin tinggi, terutama untuk bahan bakar dan kebutuhan awak kapal.
Dilansir Reuters, para pelaku industri menyebut kondisi ini sebagai krisis terburuk dalam beberapa dekade, bahkan dinilai lebih parah dibandingkan masa pandemi COVID-19. Jika harga solar naik terus menerus hingga menyentuh 40 baht per liter, aktivitas penangkapan ikan dinilai tidak lagi layak secara ekonomi.
Dampaknya mulai terasa di lapangan. Sejumlah nelayan mengaku harus mengurangi kecepatan kapal untuk menghemat bahan bakar, yang berujung pada penurunan hasil tangkapan. Dalam kondisi ini, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pemerintah Thailand disebut tengah menyiapkan langkah bantuan, termasuk penyediaan bahan bakar alternatif untuk menekan lonjakan harga. Namun hingga kini, para nelayan masih menunggu kepastian kebijakan tersebut di tengah ancaman terhentinya pasokan ikan di pasar dalam waktu dekat.





