Sebuah kapal tanker minyak Thailand berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah pemerintah Thailand dan Iran melakukan koordinasi diplomatik, menurut Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow.
Sihasak mengatakan kapal tanker milik Bangchak Corporation itu melintasi Selat Hormuz pada Senin (23/03) menyusul pembicaraan antara dirinya dengan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari.
"Saya meminta apakah kapal-kapal Thailand yang perlu melewati selat dapat dibantu untuk memastikan pelayaran yang aman," kata Sihasak.
"Mereka menjawab bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta kami menyampaikan daftar kapal yang akan melintas," sambungnya sebagaimana dikutip Bangkok Post.
EPAKapal Mayuree Naree yang berbendera Thailand dihantam proyektil pada 11 Maret.
Pelayaran aman kapal tanker Thailand ini terjadi dua minggu setelah kapal pengangkut berbendera Thailand, Mayuree Naree, diserang proyektil di selat tersebut.
Negara mana saja yang kapalnya diperbolehkan melintasi Selat Hormuz?Berbicara kepada stasiun televisi pemerintah Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup.
"Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat," ujar Araghchi, seperti dikutip kantor berita Reuters.
- Apa isi 15 butir rencana damai yang digagas Trump, dan mengapa Iran menolaknya?
- Trump ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau AS akan hancurkan pembangkit listrik
- Perang AS-Israel vs Iran: Kapal mana saja yang masih bisa melewati Selat Hormuz?
"Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman," tambahnya.
"Seperti yang Anda lihat dalam pemberitaan: China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Dua kapal India melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, bahkan Bangladesh, saya kira. Negara-negara ini berbicara dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang berakhir," lanjutnya.
BBC BBC
Data pelayaran Kpler menunjukkan hanya 99 kapal yang melewati selat sempit tersebut sepanjang bulan ini, atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari.
Padahal sebelum perang, sekitar 138 kapal melintasi selat itu setiap hari, berdasarkan data Joint Maritime Information Centre. Kapal-kapal itu diandalkan untuk membawa seperlima pasokan minyak global.
Analisis BBC menunjukkan sekitar sepertiga dari pelayaran terbaru di Selat Hormuz dilakukan oleh kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran. Di antaranya terdapat 14 kapal yang berlayar dengan bendera Iran serta sejumlah kapal lain yang dikenai sanksi karena diduga terhubung dengan perdagangan minyak Teheran.
Sembilan kapal lainnya dimiliki perusahaan yang beralamat di China. Adapun enam kapal tercatat menjadikan India sebagai tujuan akhir.
BBC
Sejumlah kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz tampak memilih rute yang lebih panjang dari biasanya.
Data pelacakan sebuah kapal tanker berbendera Pakistan menunjukkan kapal itu berlayar lebih dekat ke pantai Iran pada 15 Maret, alih-alih menempuh jalur umum yang berada di bagian tengah selat.
'Tidak ada akses bagi musuh'Araghchi juga menyatakan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik saat ini tidak akan diizinkan melintas.
Ia mengatakan bahwa kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Teluk yang berperan dalam krisis yang berlangsung tidak akan diberi izin transit.
"Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya," ujarnya pada Rabu (25/03).
BBC
Perkataan Araghchi sejalan dengan pernyataan yang diunggah oleh perwakilan Iran untuk PBB.
Dalam unggahan di X, Teheran menyatakan bahwa "kapal-kapal yang tidak bermusuhan" akan diizinkan melintasi Selat Hormuz, asalkan mereka berkoordinasi dengan "otoritas Iran yang berwenang."
Kapal-kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz sejak awal bulan ini mencakup kapal dari China, India, dan Pakistan.
Alih-alih menggunakan dua koridor transit sempit yang lebih dekat ke Oman, kapal-kapal kini mengalihkan rute lebih ke utara, melewati perairan teritorial Iran di utara Pulau Larak, sehingga aparat Iran bisa memantau dan mengendalikan lalu lintas maritim.
Bagaimana dengan kapal-kapal Indonesia?Hingga 26 Maret 2026, dua kapal tanker Pertamina milik Indonesia masih tertahan di Teluk Arab dan belum dapat melewati Selat Hormuz. Keduanya adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Sebagaimana tertera pada situs MarineTraffic, kapal Pertamina Pride terdeteksi berada di sebelah utara Kota Dammam, Arab Saudi.
Adapun kapal Gamsunoro berada di dekat pesisir Kuwait dan Irak.
Berdasarkan pernyataan Pertamina International Shipping, kapal Pertamina Pride mengangkut kargo untuk kebutuhan energi nasional. Sedangkan Gamsunoro melayani pengangkutan untuk mitra pihak ketiga (non-Pertamina).
"Keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas kami. Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal sehingga kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri," ujar Vega Pita, Pjs. Sekretaris Korporat Pertamina International Shipping, melalui akun resmi Instagram @pertaminainternationalshipping.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia saat ini masih melakukan komunikasi dengan otoritas Iran agar dua kapal Pertamina tersebut diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Lihat Video 'AS Ultimatum Iran: Damai atau Diserang Lebih Keras!':
(ita/ita)





