2 Anak Harimau di Kebun Binatang Bandung Mati, Virus Diduga sudah Menginfeksi sejak Lama

mediaindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

WALI Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan Pemkot Bandung bergerak cepat menangani kematian dua anak harimau di Kebun Binatang Bandung. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengirim tim dokter hewan untuk mengobservasi kedua satwa tersebut.

Farhan mengatakan, berdasarkan hasil observasi tim medis, dua anak harimau hasil penangkaran itu diduga telah terjangkit virus panleukopenia sejak Februari 2026.

“Kami bertanggung jawab. Virus itu bisa datang dari mana saja,” kata Farhan saat meninjau Kebun Binatang Bandung, Kamis (26/3).

Baca juga : 2 Anak Harimau Mati, Pemkot Perketat Biosecurity Kebun Binatang Bandung

Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Farhan menegaskan Pemkot Bandung akan memperketat standar biosecurity guna meminimalkan penyebaran penyakit, termasuk yang ditularkan melalui virus. Pengawasan terhadap keberadaan hewan liar yang diduga menjadi media penularan juga akan diperketat.

“Pemberian vaksin juga tidak boleh terlewat,” ujarnya.

Sementara itu, tim dokter Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, drh. Agnisa, menjelaskan bahwa upaya penyelamatan telah dilakukan secara kolaboratif. Penanganan melibatkan tim medis dari Rumah Sakit Cikole, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BBKSDA, serta tim internal Kebun Binatang Bandung.

Baca juga : Pemkot Tegaskan Kebun Binatang Bandung Jadi Ruang Terbuka Hijau untuk Masyarakat

Menurut Agnisa, saat pemeriksaan berlangsung, salah satu anak harimau sempat menunjukkan tanda-tanda vital yang membaik. Secara teoritis, satwa tersebut bahkan dinilai telah melewati masa kritis dan memperlihatkan peluang untuk pulih.

“Kami sempat senang karena melihat ada perbaikan dan berharap bisa pulih lagi. Kami tunggui terus sejak kemarin,” katanya.

Namun, saat pergantian piket pada Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WIB, petugas melaporkan anak harimau kedua juga mati. Sebelum mati, satwa itu menunjukkan gejala klinis berupa muntah dan diare disertai darah pada feses.

“Hasil tes dari sampel feses menunjukkan kedua anakan harimau ini positif terpapar panleukopenia,” kata Agnisa.

Ia menjelaskan, virus tersebut memiliki masa inkubasi yang bervariasi. Karena itu, sangat mungkin virus sudah masuk ke dalam tubuh satwa sejak lama, tetapi baru memunculkan gejala ketika kondisi imunnya melemah.

“Bisa jadi virus sudah masuk ke dalam tubuh sejak lama, namun baru bangkit dan menimbulkan gejala saat kondisi imun satwa sedang lemah,” ujarnya.

Terkait sumber penularan, BBKSDA belum bisa memastikan asal virus tersebut. Meski demikian, Agnisa menegaskan harimau lain, termasuk induknya, dalam kondisi sehat dan tidak terjangkit.

Ia menduga usia kedua anak harimau yang baru sekitar delapan bulan membuat mereka lebih rentan terhadap serangan virus.

Pasca-kejadian itu, pengelola bersama Pemkot Bandung langsung melakukan langkah sterilisasi, mulai dari penyemprotan disinfektan hingga pembersihan kandang secara intensif. Area sekitar kandang juga dijaga ketat agar tetap steril, dan petugas tidak diperbolehkan masuk tanpa prosedur keamanan yang ketat.

Sebagai informasi, Pemerintah Kota Bandung resmi mengambil alih pengelolaan Kebun Binatang Bandung sejak 5 Februari 2026. Pengambilalihan dilakukan setelah Kementerian Kehutanan mencabut izin lembaga konservasi Yayasan Margasatwa Tamansari, pengelola sebelumnya, akibat sengketa lahan dan persoalan manajemen yang berkepanjangan. (Z-10)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Vale (INCO) Amankan Fasilitas Kredit USD500 Juta, Buat Apa?
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Aktivis Orang Utan Birute Galdikas Wafat, Menhut Kenang Dedikasinya di Kalteng
• 16 jam laludetik.com
thumb
Kasus Tambang JMB: Kejati Kaltim Sita Aset Ratusan Miliar
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Lowongan Kerja Nestle Indonesia Dibuka Maret 2026
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Hujan Lebat Intai Jateng Bagian Selatan hingga 28 Maret
• 3 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.