Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan adanya potensi cuaca ekstrem yang "terbelah" di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Sebagian wilayah diperkirakan mengalami kekeringan, sedangkan wilayah lain berisiko menghadapi curah hujan tinggi.
Ada dua fenomena iklim utama yang memengaruhi cuaca Indonesia ke depan. Pertama, El Nino yang menurut sejumlah model iklim global dari Badan Riset Atmosfer dan Laut Jepang (Jamstec) berpotensi berkembang mulai April.
El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, di sepanjang garis khatulistiwa. Pemanasan ini melemahkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, sehingga curah hujan cenderung berkurang. BRIN menyebut adanya kemungkinan super El Nino atau Godzilla El Nino yaitu pemanasan melampaui 2 derajat Celcius di atas normal.
Kedua adalah fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia. Dalam kondisi ini, perairan dekat Afrika menjadi lebih hangat, sedangkan perairan dekat Indonesia justru lebih dingin. Akibatnya, pembentukan awan hujan “bergeser” menjauh dari Indonesia, sehingga wilayah barat Indonesia cenderung lebih kering.
BRIN memprediksi, kedua fenomena ini berpeluang terjadi mulai April hingga Oktober 2026. Dampaknya? Berdasarkan model prediksi musim yang dikembangkan BRIN, pada April-Juli, kemarau yang bersifat kering akan melanda sebagian besar pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Sedangkan Sulawesi, Halmahera, dan Maluku masih akan mengalami curah hujan yang tinggi.
Dengan kondisi cuaca yang berbeda ini, masyarakat Indonesia berisiko menghadapi tantangan bencana yang berbeda.
Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan, pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantai Utara Jawa. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra.
"Di saat bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sumatra, Halmahera, dan Maluku, serta dampaknya terhadap banjir dan longsor," kata Erma, dikutip dari akun Instagram BRIN.
Menengok Situasi Iklim Mirip di 2023Fenomena El Nino dan IOD positif pada 2023 tercatat berdampak signifikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, penurunan curah hujan mencapai 50-90 persen di banyak wilayah Indonesia, terutama saat puncak musim kemarau.
Volume air di waduk dan sumber air menurun drastis di wilayah seperti Jawa, Nusa Tenggara, dan sebagian Sulawesi. Kemudian, kebakaran hutan dan lahan meningkat tajam, ditandai dengan lonjakan titik panas atau hotspot di Sumatra dan Kalimantan.
Asap dari kebakaran bahkan sempat menurunkan kualitas udara ke level berbahaya di sejumlah daerah.
Di sektor pangan, produksi padi dan jagung mengalami tekanan akibat kekeringan dan gagal panen. Sejumlah pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat kekeringan untuk mengantisipasi krisis air bersih dan pangan.




