MAKASSAR, KOMPAS—Daerah lumbung pangan di Sulawesi Selatan melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi El Nino ”Godzilla” yang diprediksi mengancam Indonesia mulai awal April ini. Pemilihan bibit, percepatan musim tanam, hingga pengadaan listrik masuk sawah adalah beberapa langkah antisipasi.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengatakan sudah menyiapkan langkah seperti mengurangi umur padi. “Kalau biasanya petani panen 110 hari, maka sekarang petani kami dorong menanam padi yang bisa panen dalam 75 hari. Benihnya pakai benih lokal,” katanya di sela Pertemuan Saudagar Bugis Makassar ke XXVI di Makassar, Kamis (26/3/2026).
Selain itu, petani di sejumlah wilayah sudah mulai menanam. Memajukan musim tanam memang menjadi salah satu solusi untuk berkejaran dengan ke Nino.
Petani juga mengadakan program listrik masuk sawah lewat kerja sama dengan PLN. ”PLN membantu petani agar jaringan listrik bisa sampai ke sawah. Ini memungkinkan petani memanfaatkan air sumur dalam tanpa harus tergantung pada mesin diesel,” katanya.
El Nino ”Godzilla” adalah sebutan untuk fenomena El Nino ekstrem atau sangat kuat yang diprediksi melanda Indonesia mulai April 2026. Dinamai "Godzilla" karena kekuatannya yang masif dan dampak destruktifnya, fenomena ini menyebabkan suhu laut di Samudra Pasifik naik sangat tinggi, memicu kemarau panjang, kekeringan, dan risiko kebakaran hutan yang serius di Indonesia
Sementara itu Selle KS Dalle, Wakil Bupati Soppeng, mengatakan hal serupa. Menurut dia, terdapat 11.893 hektar areal sawah di Soppeng yang masuk dalam pengairan beririgasi tapi akan terdampak El Nino ”Godzilla”.
“Sejauh ini kami butuh 513 titik sumur bor atau sumur dalam. Karena itu kami butuh kerja sama dengan PLN untuk membangun jaringan atau mendistribusikan listrik hingga ke tengah sawah. Tahun ini kami programkan listrik masuk sawah akan beroperasi untuk 6.000 hektar,” katanya.
Dia mengatakan dari aspek lingkungan tak ada masalah dengan pemanfaatan sumur dalam ini. “Toh airnya digunakan di sawah dan kembali meresap di tanah. Saya kira tak ada masalah,” tambahnya.
Kabupaten Sidrap dan Soppeng adalah dua dari beberapa lumbung padi di daerah ini. Langkah yang dilakukan pemerintah daerah di dua kabupaten ini juga menjadi langkah yang dilakukan di daerah lain.
Tahun 2025, produksi padi di Sulsel mencapai 5,4 juta ton gabah kering giling. Dalam konversi ke beras, jumlah ini bisa mencapai lebih dari 3 juta ton. Adapun luas panen di Sulsel lebih dari 1 juta hektar.
Sementara itu Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan El Nino tak akan menganggu ketersediaan pangan karena saat ini pemerintah punya cadangan hingga 10 bulan ke depan. Sementara El Nino diprediksi terjadi hingga enam bulan ke depan.
“Sekarang ini bulan tiga. Berarti 9 bulan sampai Desember cukup. Itu belum dihitung yang akan dipanen katakanlah hingga tujuh bulan ke depan. Tujuh kali 2 juta saja minimal, seperti saat El Nino terjadi 2023-2024 itu minimal produksi 2 juta. Artinya totalnya ada 14 juta. Itu bisa sampai Mei tahun depan,” katanya.
Sementara itu terkait antisipasi kebutuhan bahan bakar minyak untuk traktor, jika pasokan energi terganggu akibat perang, Amran mengatakan, Kementerian Pertanian dan Pertamina sudah menyusun berbagai langkah antisipasi.
“Sudah kita pikirkan soal itu dan langkah antisipasinya sudah kami bicarakan juga. Harapan kami semua akan baik-baik saja dan tidak terganggu,” tambah dia.





