Ekonom Ingatkan Potensi Rupiah Tembus Rp20.000 per Dolar AS

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, JAKARTA – Ekonom sekaligus Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, memperingatkan potensi pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level psikologis baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Peringatan tersebut disampaikan seiring eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang dinilai dapat memicu gejolak pasar keuangan.

Anthony menilai, berdasarkan data historis, rupiah sangat rentan mengalami depresiasi tajam ketika cadangan devisa mulai tergerus. Dalam kondisi ekonomi yang memburuk, tekanan terhadap rupiah kerap berujung pada krisis valuta.

“Data historis menunjukkan, depresiasi rupiah sebesar 15–20 persen bukan skenario ekstrem, tetapi sudah terjadi berulang,” ujarnya, Kamis (26/3).

Dengan posisi rupiah saat ini di kisaran Rp17.000 per dolar AS, pelemahan sebesar 20 persen berpotensi mendorong nilai tukar hingga sekitar Rp20.400 per dolar AS.

Anthony menegaskan, proyeksi tersebut didasarkan pada pengalaman historis, bukan sekadar spekulasi. Ia merujuk pada tiga periode tekanan serius terhadap rupiah sepanjang 2014 hingga 2025, di mana mata uang domestik selalu mengalami koreksi signifikan.

Pada periode 2014–2015, misalnya, rupiah tercatat melemah hingga 20 persen seiring penurunan cadangan devisa. Kondisi serupa kembali terjadi pada awal pandemi COVID-19 tahun 2020, ketika rupiah anjlok dari Rp13.675 menjadi Rp16.575 hanya dalam waktu satu bulan.

Menurut Anthony, indikasi tekanan tersebut kini mulai kembali terlihat. Ia menilai ruang pemerintah untuk melakukan stabilisasi akan semakin terbatas apabila arus modal keluar terus berlanjut.

“Pada titik tertentu, rupiah akan mengalami koreksi tajam. Pertanyaannya bukan lagi apakah hal itu akan terjadi, tetapi kapan. Indikasinya sudah terlihat jelas,” tegasnya.

Dalam skenario geopolitik yang lebih ekstrem, Anthony bahkan memperkirakan depresiasi rupiah dapat melampaui 20 persen dalam rentang waktu tiga hingga enam bulan ke depan.

Kekhawatiran tersebut turut diperkuat oleh data awal tahun 2026. Ia mencatat, dalam dua bulan pertama tahun ini cadangan devisa Indonesia telah turun sebesar 4,6 miliar dolar AS, meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri senilai 7,1 miliar dolar AS dalam berbagai mata uang, termasuk dolar AS, euro, dan yuan. (jpnn/*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga buah di Malaysia naik akibat gangguan pengiriman di Timur Tengah
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Jalan Kayu Mas Utara Pulogadung Amblas, Akses Kendaraan Ditutup
• 23 menit lalukompas.com
thumb
Sadar Tak Ada Megawati Hangestri, Media Korea Soroti Kehebatan “Megatron” di Draft Pemain Asing V-League
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
KPK Tolak Permintaan Gubenur Nonaktif Riau, Abdul Wahid untuk Jadi Tahanan Rumah
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Rupiah Menguat Tipis Jadi Rp16.904 Per Dollar AS Seiring Sinyal Negosiasi Konflik Timur Tengah
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.