Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto memerintahkan percepatan pengelolaan sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE) di kota-kota besar di Indonesia.
Arahan tersebut disampaikan saat menerima Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Perkasa Roeslani, bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (25/3/2026).
Advertisement
Dalam rapat tersebut disampaikan bahwa program WTE dapat menjadi solusi strategis untuk mengatasi persoalan sampah yang selama ini belum tertangani secara optimal. Selain itu, program ini juga dinilai mampu mendukung penyediaan energi alternatif yang berkelanjutan.
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau WTE sendiri bekerja dengan mengolah sampah melalui berbagai teknologi untuk menghasilkan energi listrik. Proses ini umumnya melibatkan konversi termal seperti insinerasi, gasifikasi, atau pirolisis, yang memungkinkan sampah diubah menjadi sumber daya yang bernilai.
Pada teknologi insinerasi, sampah dibakar pada suhu tinggi sekitar 850–1.000 derajat Celcius untuk menghasilkan panas. Panas tersebut kemudian digunakan untuk mengubah air menjadi uap bertekanan tinggi di dalam boiler. Uap bertekanan tinggi ini selanjutnya memutar turbin yang terhubung ke generator sehingga menghasilkan listrik.
Sisa pembakaran seperti debu akan diproses lebih lanjut agar tidak mencemari lingkungan, sehingga operasional tetap berjalan secara bertanggung jawab.
Pemerintah juga mendorong penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dan efisien, termasuk teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dan pirolisis, guna memastikan fleksibilitas dan efektivitas dalam pengolahan sampah.




