Ngeri! Efek Perang di Timur Tengah Ganggu Dunia, Ini Analisa IMF

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Timur Tengah saat ini yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 telah mengganggu aktivitas ekonomi dunia, dan berpotensi terus mengalami pemburukan.

Dana Moneter Internasional atau IMF mengingatkan, setiap perang bersenjata pecah efeknya langsung mengguncang kehidupan dan mata pencaharian masyarakat setempat. Namun, dampaknya bisa makin meluas dengan risiko rambatan yang menjalar dari berbagai jalur.

"Kita telah melihat gangguan yang signifikan," kata Direktur Departemen Komunikasi IMF Julie Kozack dalam konferensi pers, dikutip Kamis (26/3/2026).


Baca: IMF Siapkan Bantuan Darurat Bagi Negara yang Kena Efek Perang Iran

Karena Timur Tengah merupakan salah satu negara produsen utama migas dunia, maka efek terbesar rambatannya akan mempengaruhi harga-harga komoditas energi. Apalagi, kawasan itu menjadi salah satu jalur utama pasokan minyak mentah dan gas dunia, yakni Selat Hormuz.

Tatkala Selat Hormuz tertutup imbas dari peperangan Iran dengan AS-Israel, IMF mencatat dampaknya langsung memutus akses terhadap sekitar 20% pasokan minyak dunia dan LNG yang diangkut melalui laut.

"Infrastruktur energi di kawasan Teluk dan Iran telah mengalami kerusakan, dan hal ini mengganggu produksi minyak dan gas," kata Kozack.

Terlepas dari itu, ia menyebut, setidaknya ada tiga jalur utama yang membuat konflik di Timur Tengah berefek langsung ke perekonomian dunia secara luas, mulai dari tingkat negara, kawasan, sampai global. Jalur risiko rambatan ini tengah menjadi perhatian utama IMF.

Baca: Daftar Negara Berkembang Paling Rentan Krisis Minyak, Ada RI

Jalur risiko pertama adalah melalui gejolak harga komoditas. Dampak terhadap harga komoditas tentu akan ditentukan oleh berapa lama Selat Hormuz ditutup serta sejauh mana kerusakan pada fasilitas produksi hidrokarbon di kawasan tersebut.

Kozack menyebut, harga minyak dan gas telah meningkat lebih dari 50% dalam sebulan terakhir hingga melampaui US$ 100 per barel. Selain itu, pengiriman pupuk juga terganggu.

Hal ini, beriringan dengan gangguan transportasi, meningkatkan risiko kenaikan harga pangan. Kenaikan ini bisa cukup besar, tergantung pada durasi dan intensitasnya," ucap Kozack.

Untuk masing-masing negara dan kawasan, ia menilai, dampak spesifik dari kenaikan harga komoditas akan sangat bergantung pada kondisi masing-masing negara.

Adapun untuk jalur risiko kedua adalah guncangan terhadap tekanan inflasi dan ekspektasi inflasi. Jika berlangsung lama, harga energi yang lebih tinggi akan mendorong inflasi utama (headline inflation) menjadi lebih tinggi.

"Dan yang juga akan dipantau secara cermat oleh kami serta bank sentral adalah apakah akan terjadi efek lanjutan (second-round effects) terhadap inflasi yang lebih luas, serta yang sangat penting, dampaknya terhadap ekspektasi inflasi. Ini merupakan jalur lain yang dapat mempengaruhi perekonomian global secara keseluruhan," ungkapnya.

Baca: Perang Timur Tengah Bikin Dunia Panik, Bank Sentral Terancam Buntu

Secara historis, Kozack mengatakan, jika melihat guncangan harga energi, terdapat pola umum bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% selama setahun dapat meningkatkan inflasi global sekitar 40 basis poin dan menurunkan output global antara 0,1 hingga 0,2%.

"Sekali lagi, ini adalah aturan praktis dan berlaku untuk kenaikan harga minyak yang bersifat persisten," tegasnya.

Terakhir, jalur risiko rambatan ketiga adalah kondisi keuangan. Kozack menyatakan, telah melihat reaksi di pasar global terhadap perang itu, mulai dari harga saham global menurun, hingga imbal hasil obligasi meningkat di berbagai negara, termasuk di negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa, serta di negara berkembang.

"Volatilitas meningkat. Dolar AS menguat, sementara mata uang sejumlah negara berkembang melemah. Inilah gambaran kondisi saat ini dan jalur-jalur dampaknya," tutur Kozack.

Meski begitu, ia menekankan, dampak keseluruhan dari peperangan yang diletuskan Presiden AS Donald Trump itu tentu akan sangat bergantung pada durasi dan intensitas konflik.

"Kami akan memberikan penilaian terbaru dalam laporan World Economic Outlook pada bulan April, yang akan mencakup analisis komprehensif baik di tingkat negara maupun global dan regional," paparnya.


(arj/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Harga Minyak "Ngegas", Prospek Penurunan Suku Bunga Terbatas

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Konversi Kompor hingga Kendaraan Listrik Dinilai Kunci Perkuat Ketahanan Energi
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Munafri-Aliyah Hadiri PSBM Bersama Mentan, Menag dan Wamen P2MI di Makassar
• 10 jam laluterkini.id
thumb
Jangan Sampai Terlambat! Ini Cara Mudah Perpanjang SIM A Biar Gak Bikin Baru
• 23 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Perkuat Transformasi dan Ekspansi, Chandra Asri Raup Laba Bersih USD1,4 Miliar
• 43 menit lalumetrotvnews.com
thumb
TPIA Raup Laba Rp23,8 Triliun di 2025, Terbang 2.662 Persen
• 13 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.