Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran selama dua pekan pertama memicu lonjakan emisi gas rumah kaca dalam skala besar. Analisis terbaru menunjukkan total emisi mencapai sekitar 5,6 juta ton karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca lain hanya dalam periode 28 Februari hingga 14 Maret 2026.
Angka ini setara dengan total emisi tahunan gabungan dari 84 negara dengan tingkat emisi terendah di dunia. Bahkan, jumlah tersebut melampaui emisi tahunan Islandia yang pada 2024 tercatat sekitar 4,7 juta ton karbon dioksida dari seluruh sektor.
"Setiap serangan rudal adalah tambahan pembayaran untuk planet yang lebih panas dan semakin tidak stabil, dan tidak satu pun dari itu membuat siapa pun lebih aman," kata Patrick Bigger, salah satu penulis analisis tersebut sekaligus Direktur Riset di Climate and Community Institute, mengutip The Guardian.
Peneliti dari Climate and Community Institute menyebut sumber emisi terbesar berasal dari penghancuran infrastruktur. Sekitar 2,7 juta ton CO2 muncul dari reruntuhan bangunan yang harus dibersihkan serta proses rekonstruksi pascaperang.
Data menunjukkan lebih dari 16 ribu bangunan tempat tinggal, ribuan unit komersial, puluhan fasilitas kesehatan, dan sekolah hancur dalam periode tersebut. Emisi dari sektor ini setara dengan emisi karbon tahunan Maladewa.
Sumber emisi terbesar kedua berasal dari serangan terhadap fasilitas minyak di kawasan Teluk. Peneliti memperkirakan 2,5 juta hingga 5,9 juta barel minyak terbakar atau meledak, menghasilkan sekitar 2,1 juta ton emisi yang sebanding dengan emisi tahunan Malta.
Aktivitas militer seperti penggunaan jet tempur, kapal perang, dan logistik menjadi penyumbang terbesar ketiga dengan total sekitar 583 ribu ton CO2. Operasi ini setara dengan emisi tahunan Greenland. Dalam dua pekan, lebih dari 6.000 target diserang menggunakan pesawat tempur dan pembom, dengan konsumsi bahan bakar diperkirakan mencapai 150 juta hingga 270 juta liter.
Produksi ulang peralatan militer yang hancur juga menyumbang emisi tambahan sekitar 190 ribu ton CO2, angka yang setara dengan emisi tahunan Tonga. Selain itu, produksi ulang ribuan rudal dan drone menyumbang sekitar 61 ribu ton emisi, setara emisi tahunan pabrik semen kecil.
Peneliti memperingatkan dampak iklim dari perang ini tidak berhenti pada fase konflik. Blokade Selat Hormuz oleh Iran berpotensi memicu krisis energi global.
Negara-negara diperkirakan akan meningkatkan eksplorasi bahan bakar fosil untuk menjaga ketahanan energi. Pola ini berisiko memperpanjang ketergantungan global pada energi karbon tinggi.
Dengan perang yang terus berlanjut, total emisi dipastikan telah jauh melampaui estimasi awal. Peneliti menilai laju emisi akan terus meningkat seiring intensitas serangan terhadap fasilitas energi.





