DUBAI, KOMPAS.TV — Iran dan Amerika Serikat (AS) bersikeras dengan posisi mereka masing-masing ketika tekanan diplomatik datang untuk melakukan gencatan senjata dalam perang Timur Tengah, Kamis (26/3/2026).
Teheran bergerak untuk memformalkan kendalinya atas Selat Hormuz yang krusial sementara Washington bersiap untuk kedatangan pasukan AS di wilayah tersebut yang dapat digunakan di daratan Republik Islam Iran.
Sirene terdengar di langit Israel dan Uni Emirat Arab, memperingatkan akan datangnya rentetan rudal Iran. Dilaporkan dua orang tewas dan tiga lainnya terluka akibat pecahan peluru dari pencegatan rudal di atas Abu Dhabi pada hari Kamis.
Para ahli industri mengatakan Iran meminta kapal membayar dalam mata uang yuan Tiongkok ketika akan melewati Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan minyak dan gas, di mana 20 persen dari seluruh minyak dan gas alam di dunia melalui perairan sempit tersebut.
Dengan kendalinya atas lalu lintas melalui Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia ke laut lepas, Iran telah memblokir kapal-kapal yang dianggap terkait dengan upaya perang AS dan Israel, tetapi masih membiarkan sejumlah kecil kapal lain lewat.
Baca Juga: AS Klaim Negosiasi dengan Iran, Teheran Bantah dan Sebut Upaya Menutupi Kekalahan
Kantor berita Fars dan Tasnim, yang dekat dengan Garda Revolusi paramiliter Iran, mengutip anggota parlemen Mohammadreza Rezaei Kouchi yang mengatakan bahwa parlemen sedang berupaya untuk meformalkan proses pengenaan biaya untuk membiarkan kapal lewat.
“Kami menyediakan keamanannya, dan wajar jika kapal dan tanker minyak harus membayar biaya tersebut,” katanya seperti dikutip dari The Associated Press.
Lloyd’s List Intelligence yang merupakan penyedia data maritim global, menyebut rezim Iran saat ini sebagai rezim ‘gerbang tol’ de facto.
Perusahaan intelijen perkapalan mengatakan kapal-kapal harus memberikan manifes, detail awak kapal, dan tujuan mereka kepada Garda Revolusi Iran. Kemudian data tersebut digunakan untuk penyaringan sanksi dan pemeriksaan kargo. Mereka menggambarkan aktivitas ini sebagai 'pemeriksaan geopolitik'.
Penulis : Tussie Ayu Editor : Desy-Afrianti
Sumber : The Associated Press
- gencatan senjata
- selat hormuz
- perang iran
- kendali selat hormuz




