Bisnis.com, JAKARTA — Saham emiten maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) mencatatkan lonjakan hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA) pada perdagangan hari ini, Kamis (26/3/2026).
Sentimen positif tersebut dipicu oleh keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang resmi mengeluarkan saham Garuda Indonesia dari Papan Pemantauan Khusus.
Berdasarkan data BEI, saham GIAA ditutup melonjak 15,07% menuju level Rp84 per saham. Bahkan, pada awal pembukaan perdagangan, saham maskapai nasional ini sempat menyentuh level tertinggi di posisi Rp96 per lembar.
Keluarnya GIAA dari pemantauan khusus menandai kembalinya mekanisme perdagangan saham perseroan ke pasar reguler, setelah sebelumnya tertahan dalam mekanisme Full Call Auction (FCA).
Selain itu, BEI juga resmi menghapus notasi khusus “E” yang selama ini menyertai kode saham GIAA akibat kondisi ekuitas negatif.
Pencapaian ini menjadi sebuah lompatan mengingat pada posisi akhir 2024, ekuitas perseroan masih tercatat negatif sebesar US$1,35 miliar. Meski demikian, GIAA masih membukukan rugi bersih sekitar US$322,4 juta pada 2025 di tengah tekanan pendapatan yang melandai 5,85% secara tahunan.
Baca Juga
- Garuda Indonesia (GIAA) Catat Rugi Rp5,39 Triliun pada 2025
- Garuda (GIAA) Sebut Diskon Tiket Mudik Lebaran 2026 Tak Pengaruhi Kinerja
- Garuda Indonesia (GIAA) Buka Suara soal Peringkat Bintang 4 Skytrax
"Tidak dapat dipungkiri penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I/2025 di mana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, Rabu (18/3/2026).
Glenny menyatakan GIAA akan terus memaksimalkan jumlah armada yang layak terbang (serviceable aircraft). Hingga akhir 2025, jumlahnya ditargetkan mencapai sedikitnya 99 armada, naik dari Juni 2025 yang sebanyak 84 armada.
Di sisi lain, terdapat 43 armada yang berstatus unserviceable dan saat ini tengah dalam tahapan penyelesaian perawatan. Di tengah tantangan optimalisasi kapasitas produksi tersebut, jumlah penumpang GIAA tercatat sebanyak 21,2 juta orang, atau terkoreksi 10,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, tekanan kinerja Garuda Indonesia pada tahun buku 2025 turut dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil penumpang (passenger yield), fluktuasi nilai tukar rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada biaya dan durasi proses perawatan pesawat.
"Ke depan, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda optimis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid," ujarnya.
Adapun sebelum lonjakan pada hari ini, saham GIAA ditutup pada level Rp73 per lembar pada Rabu (25/3). Meski menguat sekitar 20% dalam sepekan terakhir, saham GIAA masih terkoreksi 14,29% sejak awal tahun atau year to date.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




