JAKARTA, KOMPAS — Penumpang transportasi umum yang kembali ke Jakarta terus meningkat menjelang puncak arus balik yang diprediksi terjadi pada 28-29 Maret 2026. Jumlah pemudik yang kembali menggunakan moda transportasi kereta maupun mereka yang menggunakan jasa penyeberangan antarpulau terpantau terus bertambah.
Berdasarkan pantauan Kompas di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kamis (26/3/2026), pergerakan arus balik terlihat signifikan. Sejumlah penumpang mengaku telah merencanakan waktu kembali ke Jakarta jauh-jauh hari.
Salah satu penumpang dari Kebumen, Jawa Tengah, bernama Dimas (34) kembali ke Jakarta bersama istrinya, Lina (34) dan anaknya, Abinanda (2). Mereka sudah membeli tiket mudik dan balik sejak Februari 2026 lalu.
Tiket kembali ke Jakarta dipesan jauh-jauh hari karena Dimas sudah harus bekerja pada Jumat (27/3) besok sementara Lina masuk kerja pada Senin (30/3). Mereka memilih menggunakan kereta karena tepat waktu dan lebih cepat daripada menggunakan kendaraan pribadi.
Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta Franoto Wibowo menyampaikan, jumlah penumpang yang tiba di berbagai stasiun wilayah Daop 1 Jakarta pada Kamis hingga pukul 09.00 mencapai 52.471 orang. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan volume keberangkatan sebanyak 33.520 penumpang.
“Jadi, dari tanggal 23 Maret sampai dengan nanti tanggal 29 Maret, angka kedatangan penumpang itu lebih tinggi (dari keberangkatan) dan agak merata karena dari tanggal 23 (Maret) itu 51.000 dan diperkirakan sampai 29 (Maret) di atas 51.000,” kata Franoto di Stasiun Pasar Senen.
Ia mengatakan, kereta tambahan yang disediakan PT KAI masih berjalan sampai 1 April mendatang. Pada arus balik, Daop 1 Jakarta mengoperasikan 20 kereta api tambahan dan empat kereta api motor gratis. Jumlah itu sama dengan saat arus mudik. Adapun pada masa Lebaran 2026, penjualan tiket moda kereta api secara nasional mencapai 97,7 persen dari total kapasitas yang disediakan.
Ketersediaan kursi masih terbuka, terutama pada relasi-relasi tertentu yang tidak ditempuh secara penuh oleh pelanggan.
Penumpang yang tiba di wilayah Daop 1 Jakarta selama arus balik umumnya berasal dari sejumlah kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat, seperti Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Jember, Purwokerto, Bandung, Malang, Solo, Tegal, Madiun, dan Kutoarjo.
Untuk menjaga minat masyarakat menggunakan kereta api pada masa Lebaran, PT KAI memberikan diskon 20 persen untuk kelas eksekutif. Promo ini berlaku untuk keberangkatan 25 Maret hingga 1 April 2026 dan tersedia pada 61 perjalanan kereta api dari Stasiun Gambir dan Stasiun Pasar Senen.
PT KAI juga memberikan diskon 30 persen untuk kereta api kelas ekonomi komersial pada periode 14–29 Maret 2026. Khusus di wilayah Daop 1 Jakarta, disiapkan sekitar 329 ribu tempat duduk untuk program tersebut, dengan sisa sekitar 17 ribu tempat duduk.
Hingga 25 Maret 2026 pukul 15.00 WIB, penjualan tiket Angkutan Lebaran 2026 secara nasional tercatat sebanyak 4.394.930 atau 97,7 persen dari total kapasitas yang disediakan selama periode 11 Maret hingga 1 April 2026. Angka ini mencerminkan tingginya minat masyarakat dalam memanfaatkan layanan kereta api pada Lebaran tahun ini.
Vice President Corporate Communication PT KAI Anne Purba mengatakan, tren ini menunjukkan pergeseran pola perjalanan masyarakat yang semakin terencana. “Perjalanan dengan kereta api terus meningkat sejak pertengahan Maret dan saat ini memasuki fase arus balik. Kereta api menjadi pilihan karena nyaman, terjadwal, dan memberikan kepastian perjalanan,” ujar Anne melalui keterangan tertulis.
Pada layanan kereta api jarak jauh, penjualan tiket telah mencapai 3.748.108 atau 104,9 persen dari total kapasitas 3.571.760 tempat duduk. Sementara itu, kereta api lokal mencatat penjualan 646.822 tiket atau 69,8 persen dari total kapasitas 926.936 tempat duduk. Ketersediaan kursi masih terbuka, terutama pada relasi-relasi tertentu yang tidak ditempuh secara penuh oleh pelanggan.
Pergerakan arus balik Lebaran dari Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa mulai meningkat. Berdasarkan data operasional PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) , total penumpang yang telah kembali ke Pulau Jawa pada periode 22 Maret hingga 26 Maret 2026 pukul 14.00 WIB (H hingga H+4) mencapai 444.223 orang atau sekitar 49 persen dari total penumpang saat arus mudik sebesar 898.864 orang. Sementara, total kendaraan yang telah kembali tercatat sebanyak 118.297 unit atau 49 persen dari total kendaraan saat mudik sebanyak 239.920 unit.
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo, mengatakan, dengan masih tersisa sekitar 51 persen pengguna jasa yang belum kembali, potensi lonjakan dalam waktu berdekatan menjadi perhatian utama. Untuk mengantisipasi hal itu, ASDP telah menyiapkan langkah berupa pengoperasian kapal yang disesuaikan dengan skema kepadatan, kesiapan rencana darurat melalui penyediaan tugboat dan teknisi siaga 24 jam, hingga penerapan pola tiba–bongkar–berangkat (TBB) untuk mempercepat waktu layanan saat kondisi padat.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menambahkan, stimulus tarif diberikan untuk mendorong distribusi perjalanan yang lebih merata. Diskon 100 persen tarif jasa pelabuhan atau setara dengan 21,9 persen dari total tarif penyeberangan diberlakukan pada 7 lintasan dan 14 pelabuhan selama 12–31 Maret 2026.
Kebijakan itu, kata Windy, berlaku bagi pejalan kaki serta kendaraan golongan II dan IVA reguler, serta pejalan kaki dan golongan II layanan express. Selain itu, penerapan tarif tunggal di Bakauheni diberlakukan sejak 23 Maret hingga 29 Maret 2026 untuk kendaraan golongan I hingga VIA.
“Untuk perjalanan yang lebih lancar, masyarakat diimbau membeli tiket lebih awal melalui Ferizy yang tersedia hingga H-60, menghindari calo, serta datang sesuai jadwal keberangkatan,” ujar Windy.
Di Ketapang, Banyuwangi, arus balik dari Jawa ke Bali juga mulai meningkat. Dalam periode arus balik 22–25 Maret 2026, sebanyak 47.945 unit kendaraan telah kembali ke Bali, setara 29 persen dari total kendaraan yang sebelumnya menyeberang ke Jawa. Sementara itu, sekitar 71 persen atau 117.367 unit kendaraan masih belum melakukan perjalanan balik.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan mengatakan, hasil dari evaluasi arus mudik yang lalu mengharuskan adanya optimalisasi buffer zone atau zona penyangga dan delaying system untuk mengurai antrean kendaraan yang akan menuju ke area pelabuhan.
"Kita harus memprioritaskan layanan penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk pada arus balik ini. Untuk mekanisme Tiba - Bongkar - Berangkat (TBB) kita memiliki parameter V/C ratio maksimal 0,6. Maka keputusan harus diambil secara cepat dan jangan terlambat sesuai dengan kondisi di lapangan," tutur Aan sebagaimana disampaikan dalam keterangan pers.
Zona penyangga (buffer zone) untuk kendaraan roda empat dan bus berada di Gran Watudodol dan Kantong Parkir Bulusan. Sementara zona penyangga untuk kendaraan barang berada di Sri Tanjung dan Kantong Parkir PT Pusri dan Pelindo.
Strategi lainnya adalah menambah operasi kapal. Pada kondisi normal sebanyak 28 kapal beroperasi. Untuk kondisi padat, jumlah itu ditambah menjadi sebanyak 30 kapal beroperasi dan untuk kondisi sangat padat akan ada 32 kapal yang beroperasi.
"Apabila sangat diperlukan jumlah kapal bisa ditambah menjadi 35 sampai dengan 40 kapal dan akan ada 2 kapal bantuan yang kapasitasnya 60 hingga 80 kendaraan," kata Aan.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh PT ASDP Indonesia Ferry, pada H+1 hingga H+3, kendaraan yang sudah menyeberang ke Bali sebanyak 41.526 kendaraan. Rincian adalah roda dua sebanyak 24.093 unit (25 persen), roda empat sebanyak 14.179 unit (34 persen), bus sebanyak 927 unit (20 persen) dan truk sebanyak 2.327 (17 persen).
"Dari jumlah tersebut masih terdapat 114.255 kendaraan (73 persen) yang belum menyeberang ke Bali dan ASDP memprediksi arus balik tertinggi jatuh pada H+6 atau tanggal 28 Maret 2026,” ujarnya.





