Setiap kali Lebaran datang, ia selalu datang dengan janji yang sama, janji kembali suci, janji kembali bersih, janji kembali menjadi manusia yang lebih baik. Perilaku saling memaafkan, perilaku menahan ego, dan untuk beberapa hari karena perilaku tersebut dunia terasa lebih hangat. Tahun ini, lebih dari 120 juta orang mudik, rela antre berjam-jam, menghadapi kemacetan, rela menguras tabungan, demi satu kata “pulang”.
Namun setelah semua itu selesai, ada satu pertanyaan penting yang justru jarang kita ajukan, apa yang sebenarnya kita bawa pulang, selain lelah dan oleh-oleh? Sebab jika jujur, banyak dari kita tidak benar-benar pulang. Kita hanya singgah ya hanya sekadar singgah dan menjalani rutinitas belaka, saling memaafkan, tetapi tidak benar-benar mengikhlaskan, saling bersilaturahmi, tetapi tetap menjaga jarak di hati, saling tersenyum, tetapi begitu rutinitas kembali, kita berubah lagi menjadi mudah tersulut emosi, menjadi tidak sabar, dan kembali tenggelam dalam ego.
Pada akhirnya Lebaran berubah hanya menjadi rutinitas tahunan, sekadar untuk dirayakan, dipamerkan, lalu dilupakan. Apakah ini hanya sekadar kelalaian personal ataukah merupakan kegagalan sosial, faktanya ini terus berulang. Sebagai dosen dan peneliti sekaligus juga mahasiswa di bidang sumber daya manusia, saya melihat ironi ini terjadi hampir setiap tahun. Kita memiliki momentum refleksi yang sangat kuat selama Ramadan dan Lebaran, tetapi gagal mengubahnya menjadi perilaku jangka panjang.
Dalam Teori Self-Determination Theory (SDT), Edward L. Deci dan Richard M. Ryan menegaskan bahwa perubahan yang bertahan tidak lahir dari suasana emosional sesaat, melainkan dari nilai yang benar-benar diinternalisasi. Tanpa itu, semua niat baik hanya akan menjadi semangat musiman, hangat di hari raya, dingin di hari kerja.
Lebih jauh, Daniel Kahneman menunjukkan bahwa manusia cenderung kembali pada kebiasaan lama. Kita tahu mana yang benar, tetapi kita tetap memilih mana yang nyaman, kita tahu harusnya lebih sabar, tetapi kita tetap reaktif, kita tahu harusnya lebih jujur, tetapi kita tetap mencari celah, kita tahu harusnya lebih peduli, tetapi kita tetap sibuk dengan diri sendiri.
Lalu untuk apa semua ritual itu? jika pada akhirnya tidak mengubah apa pun, pertanyaan ini mungkin terasa tidak nyaman, tetapi justru di situlah letak kejujurannya, kita terlalu mudah merasa sudah berubah hanya karena sempat tersentuh, kita terlalu cepat merasa sudah baik hanya karena sudah meminta maaf, kita terlalu percaya bahwa niat saja sudah cukup. Padahal, tanpa konsistensi, semua itu hanyalah ilusi moral belaka.
Jika pola ini terus berulang, maka Lebaran hanya akan menjadi “libur panjang yang sakral” bukan momentum transformasi, Ia kehilangan daya ubahnya, Ia gagal menembus keseharian. Padahal, jika nilai-nilai Lebaran benar-benar hidup, dampaknya bisa sangat konkret, di jalanan, orang tidak mudah tersulut emosi, di kantor, integritas tidak perlu diawasi, di masyarakat, perbedaan tidak selalu berujung konflik. Namun realita berkata lain, apa yang kita lihat justru sebaliknya.
Kita cepat kembali pada versi lama diri kita seolah-olah lebaran tidak pernah terjadi, dari sini kita perlu melakukan refleksi dan evaluasi, mungkin yang bermasalah bukan pada lebarannya, tetapi pada keseriusan kita dalam memaknainya, kita hanya asik merayakan simbol saat lebaran itu saja, tetapi menghindari perubahan setelahnya, kita hanya mau mengulang tradisi, tetapi enggan bahkan menolak disiplin diri, kita hanya menginginkan hasilnya, tetapi tidak siap dengan prosesnya. Padahal perubahan selalu punya syarat, konsistensi dalam hal kecil, setiap hari.
Dan di sinilah ujian itu dimulai, bukan saat kita memakai baju baru, bukan pula ketika saat kita bersalaman, tetapi pada saat kita kembali pada rutinitas ketika tidak ada yang melihat, tidak ada yang mengingatkan, dan tidak ada suasana yang mendukung. Hari-hari di mana ketika kita harus memilih antara tetap pada nilai, atau kembali pada kebiasaan lama. Kini, lebaran telah usai, tidak ada lagi euphoria, tidak ada lagi alasan untuk menunda perubahan, dan yang tersisa hanyalah pertanyaan Apakah kita benar-benar berubah, ataukah hanya sekadar merasa berubah?





