JAKARTA, KOMPAS.com - Genangan air yang merendam Taman Pemakaman Umum (TPU) Semper, Jakarta Utara, belum sepenuhnya teratasi.
Pengelola berharap adanya perbaikan saluran air serta pengurukan lahan untuk mengatasi banjir di area pemakaman tersebut.
Kepala Satuan Pelaksana TPU Semper, Sukino, mengatakan pihaknya selama ini telah melakukan upaya penanganan sementara dengan menyedot air menggunakan pompa.
“Kami selaku pelaksana melakukan penyedotan dengan alkon, kadang berkoordinasi dengan SDA juga untuk membantu melakukan penyedotan,” ujar Sukino kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2026).
Baca juga: Dari Bekasi, Roni Datang Menjaring Ikan di TPU Semper yang Terendam Banjir
Menurutnya, solusi jangka panjang yang dibutuhkan adalah pembangunan saluran drainase yang lebih optimal.
Selain itu, pengurukan lahan dinilai perlu karena kondisi area pemakaman lebih rendah dibandingkan jalan di sekitarnya.
“Jika ada tanahnya, harapannya ingin segera dilakukan pengurukan agar semua masalah genangan air teratasi di TPU Semper,” tuturnya.
Rencana pengurukan sebenarnya pernah disosialisasikan pada 2023, namun hingga kini belum terealisasi.
Sukino telah memiliki daftar titik yang paling memerlukan pengurukan, termasuk Unit Islam 41–44, 46–51, 53–54, 56–57, dan 59–60.
Baca juga: Waspada Cuaca Ekstrem Jakarta hingga 29 Maret, Ribuan Pompa Disiagakan Antisipasi Banjir
Sukino menyebut banjir yang tak kunjung surut mulai terjadi sejak Januari 2026. Curah hujan tinggi dan posisi area pemakaman yang lebih rendah dibanding jalan sekitar satu meter disebut sebagai penyebab utama.
“Saluran juga kurang maksimal,” ucapnya.
Persoalan banjir di TPU Semper, Cilincing, Jakarta Utara, dari tahun ke tahun belum teratasi. Cuaca ekstrem belakangan membuat kondisi semakin memperihatinkan.
Penyebabnya beragam, mulai dari drainase buruk, berada di dataran rendah yang menjadi ruang limpasan air, hingga faktor cuaca ekstrem.
Baca juga: Mudik Pakai Perahu Kayu ke Bekasi: Bebas Macet, Murah, tapi Penuh Risiko
Depo Kontainer dan Limbasan Air
Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, sepakat bahwa penyebab utama banjir adalah dataran TPU Semper yang rendah, sementara lahan sekitarnya dibangun lebih tinggi.