Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menghadiri pembukaan rangkaian kegiatan Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) di Manila, Filipina, Kamis.
"Kehadiran kami di sini adalah bagian dari komitmen berkelanjutan PDI Perjuangan untuk memastikan pelembagaan partai berjalan beriringan dengan penguatan kualitas demokrasi baik di Indonesia maupun berbagai kawasan lain, khususnya di Asia Tenggara,” kata Hasto dikutip dari siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis.
Mengutip Bung Karno, Hasto mengatakan demokrasi Indonesia sangat khas di mana demokrasi politik dan ekonomi menjadi daya penggerak bagi kemerdekaan setiap anak bangsa dan terwujudnya cita-cita keadilan sosial.
Dalam forum bertajuk "All About Democracy" ini, Hasto Kristiyanto dijadwalkan menjadi salah satu pembicara utama dalam sesi Policy Roundtable on Democratic Resilience pada Jumat (27/3).
Hasto akan membedah topik "Political Party Institutionalization and Strategic Campaign". Ia juga akan berbagi panel dengan tokoh politik Filipina, Florencio "Butch" Abad, dan Sekjen Singapore Democratic Party, Chee Soon Juan.
Selain mengikuti diskusi, delegasi PDIP akan memberikan suara dalam pertemuan Komite Eksekutif (ExCo) CALD ke-52 untuk memilih pimpinan baru CALD periode 2026-2028.
"Kami hadir mempertegas posisi PDI Perjuangan dalam mendukung pesan utama forum bahwa demokrasi di Asia harus dipertahankan dan diperluas manfaatnya bagi seluruh warga negara," tutur Hasto.
Kehadiran Hasto di Manila didampingi Ketua Departemen Hubungan Internasional DPP PDIP Hanjaya Setiawan, pengurus DPC PDIP Depok drg. Rahma Charliyan, serta beberapa simpatisan Partai.
Acara dibuka secara resmi oleh Presiden Partai Liberal Filipina, Lorenzo "Erin" Tañada III.
Sesaat setelah pembukaan, agenda langsung dilanjutkan dengan sesi seminar mengenai peran perempuan bertajuk "Democratic Resilience at Risk: Violence Against Women in Politics in Asia".
Sesi ini menghadirkan tokoh ikonik demokrasi Filipina, Leila de Lima, sebagai panelis utama. De Lima bersama panelis dari Taiwan dan Thailand membedah ancaman kekerasan serta disinformasi yang menyasar politisi perempuan sebagai tantangan nyata bagi ketahanan demokrasi di kawasan.
Baca juga: Hasto: Pertemuan Megawati-Prabowo akrab bak teman lama
Baca juga: PDI Perjuangan: Idul Fitri momen saling memaafkan jaga persaudaraan
Baca juga: Pertemuan Prabowo--Megawati bahas isu strategis dan geopolitik global
"Kehadiran kami di sini adalah bagian dari komitmen berkelanjutan PDI Perjuangan untuk memastikan pelembagaan partai berjalan beriringan dengan penguatan kualitas demokrasi baik di Indonesia maupun berbagai kawasan lain, khususnya di Asia Tenggara,” kata Hasto dikutip dari siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis.
Mengutip Bung Karno, Hasto mengatakan demokrasi Indonesia sangat khas di mana demokrasi politik dan ekonomi menjadi daya penggerak bagi kemerdekaan setiap anak bangsa dan terwujudnya cita-cita keadilan sosial.
Dalam forum bertajuk "All About Democracy" ini, Hasto Kristiyanto dijadwalkan menjadi salah satu pembicara utama dalam sesi Policy Roundtable on Democratic Resilience pada Jumat (27/3).
Hasto akan membedah topik "Political Party Institutionalization and Strategic Campaign". Ia juga akan berbagi panel dengan tokoh politik Filipina, Florencio "Butch" Abad, dan Sekjen Singapore Democratic Party, Chee Soon Juan.
Selain mengikuti diskusi, delegasi PDIP akan memberikan suara dalam pertemuan Komite Eksekutif (ExCo) CALD ke-52 untuk memilih pimpinan baru CALD periode 2026-2028.
"Kami hadir mempertegas posisi PDI Perjuangan dalam mendukung pesan utama forum bahwa demokrasi di Asia harus dipertahankan dan diperluas manfaatnya bagi seluruh warga negara," tutur Hasto.
Kehadiran Hasto di Manila didampingi Ketua Departemen Hubungan Internasional DPP PDIP Hanjaya Setiawan, pengurus DPC PDIP Depok drg. Rahma Charliyan, serta beberapa simpatisan Partai.
Acara dibuka secara resmi oleh Presiden Partai Liberal Filipina, Lorenzo "Erin" Tañada III.
Sesaat setelah pembukaan, agenda langsung dilanjutkan dengan sesi seminar mengenai peran perempuan bertajuk "Democratic Resilience at Risk: Violence Against Women in Politics in Asia".
Sesi ini menghadirkan tokoh ikonik demokrasi Filipina, Leila de Lima, sebagai panelis utama. De Lima bersama panelis dari Taiwan dan Thailand membedah ancaman kekerasan serta disinformasi yang menyasar politisi perempuan sebagai tantangan nyata bagi ketahanan demokrasi di kawasan.
Baca juga: Hasto: Pertemuan Megawati-Prabowo akrab bak teman lama
Baca juga: PDI Perjuangan: Idul Fitri momen saling memaafkan jaga persaudaraan
Baca juga: Pertemuan Prabowo--Megawati bahas isu strategis dan geopolitik global





