Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara telah melakukan pemetaan lokasi rawan banjir rob di berbagai area di wilayah pesisir utara Jakarta.
Hal tersebut mencerminkan langkah proaktif dalam menghadapi kemungkinan terjadinya banjir pesisir yang dapat berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitarnya. Identifikasi titik-titik rawan genangan penting dilakukan agar upaya mitigasi lebih tepat sasaran.
Strategi Antisipasi dari Suku Dinas SDAUntuk menangani potensi banjir rob, Suku Dinas SDA Jakarta Utara telah merencanakan beberapa strategi antisipasi.
“Untuk mengantisipasi potensi rob tersebut telah disiapkan berbagai langkah strategis,” kata Kepala Seksi Pemeliharaan Drainase Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara, Yudo Widiatmoko di Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Upaya tersebut mencakup pembangunan dan peninggian tanggul pada titik-titik krusial yang rawan terhadap intrusi air laut serta pengerukan lumpur kali. Kemudian, melakukan pemasangan tanggul darurat di sejumlah titik serta pengoperasian pompa air di berbagai lokasi rawan.
Tidak hanya infrastruktur yang menjadi fokus, Suku Dinas SDA juga menyiagakan 150 personel Pasukan Biru, 20 unit pompa apung, 16 unit pompa mobile serta delapan stasiun pompa lengkap dengan operatornya untuk menyedot banjir.
Lokasi Rawan Banjir RobBMKG memprediksi potensi banjir rob diprakirakan terjadi pada 19 April 2026 dengan ketinggian muka air laut mencapai sekitar 1,15 meter.
"Semoga nantinya semua masih cukup kondusif dan aktivitas masyarakat tidak terganggu,” ujar Yudo.
Beberapa kecamatan di Jakarta telah dikenali sebagai daerah yang berpotensi tinggi terhadap banjir rob, diantaranya:
Kecamatan Penjaringan-
Kapuk Raya
-
Muara Angke
-
Pelabuhan Nizam Zachman
-
Kawasan Baywalk Pluit
-
Tanggul Pelindo Muara Baru
-
Jalan Lodan Raya
-
Ancol Timur Utara
-
Jalan Ketel Uap
-
Marunda Pulo
-
Marunda Makmur di sekitar MTs Al Kasyaf
-
Jalan RE Martadinata
-
Jalan Arteri Kali Sunter
Pihaknya akan bergerak cepat mengantisipasi ancaman banjir rob dan genangan di sejumlah wilayah pesisir.
“Langkah ini dilakukan untuk menjaga aktivitas masyarakat tetap berjalan normal, seiring prediksi pasang air laut yang berpotensi terjadi pada bulan April,” kata Yudo.





