Strategi Iran di Selat Hormuz Disebut Mengedepankan Geografi Militer

metrotvnews.com
17 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Strategi Iran di Selat Hormuz, dianalisis. Manuver Iran memanfaatkan selat tersebut untuk melawan Amerika Serikat dan Israel, dinilai mengedepankan geografi militer. 

"Dalam krisis Selat Hormuz ini, geografi militer yang kita kenal sebagai Cuaca, Medan, Musuh (Cumemu) kembali menjadi relevan," kata Dosen Strategi Kampanye Militer Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan RI Gentio Harsono, dalam keterangan tertulis, Kamis, 26 Maret 2026.

Menurut Gentio, strategi itu perlu menjadi bahan diskursus dan analisis bersama. Khususnya, bagi pemerintah Indonesia.

"Jika Iran menerapkan strategi perang asimetrisnya  menghadapi lawan yang lebih kuat secara militer, seperti AS dan Israel. Tujuannya jelas, membuat konflik berlarut-larut dan melumpuhkan pertahanan lawan perlahan," kata Gentio.
 

Baca Juga :

Riuh Hormuz Mengusik Dunia

Belajar dari Perang Teluk, kata Gentio, perang tidak hanya ditentukan oleh kualitas serangan. Tetapi, daya tahan ruang yang diserang. 

Bentang alam seperti pegunungan, laut, teluk, selat, gurun, dan jalur logistik, kata dia tidak pernah netral. Semuanya dapat menjadi penghalang, pelindung, penunda, sekaligus pengganda kekuatan dalam perang.

Medan yang sulit seperti pegunungan dan wilayah pesisir, sangat strategis. Medan itu, kata Gentio, dapat membatasi pergerakan musuh, melindungi kekuatan yang bertahan, dan memperbesar peluang serangan balasan asimetris.

"Dalam strategi ini, Iran dapat memanfaatkan wilayah geografisnya untuk mengambil keuntungan strategisnya," kata Gentio.

Gentio menganalisis ruang strategis yang dibentuk oleh cincin pegunungan, cekungan interior, pesisir Teluk Persia, dan posisi dominan di utara Selat Hormuz. Pertahanan Iran, kata dia, bukan semata-mata persoalan jumlah rudal atau drone.

Menurut Gentio, pertahanan Iran adalah hasil kombinasi kedalaman teritorial, perlindungan topografi. Termasuk, kemampuan memanfaatkan chokepoint maritim paling sensitif di dunia, Selat Hormuz.

Dia melihat pantai terbuka, teluk terlindung, pelabuhan, dan jalur sempit, dapat diubah menjadi instrumen pertahanan sekaligus tekanan geopolitik terhadap lawannya. Menurut Gentio, kendali Iran atas ruang utara Hormuz memberi nilai strategis yang jauh melampaui perhitungan militer sempit.


Foto satelit selat hormuz. (Dok. NASA)

"Geografi Iran telah membuat perang berisiko, waktu menjadi panjang, menguras anggaran perang, dan mengguncang ekonomi global," kata Gentio.

Gentio melihat, keunggulan geografis serupa dimiliki Indonesia, dengan bentuk negara kepulauan. Maka, kata dia, manuver Iran mesti menjadi pelajaran penting.

"Taktik Iran sangat berhasil, perang pun berlarut-larut dan secara perlahan melemahkan lawan," kata Gentio.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ARMY Heboh! BTS Dirumorkan Tampil di Halftime Super Bowl 2027
• 23 menit lalutabloidbintang.com
thumb
Harga Netflix Naik Lagi, Ini Daftar Terbarunya
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
AS ancam akan lancarkan serangan dahsyat terhadap Iran
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Vatikan Izinkan Umat Katolik Terima Donor Organ dari Hewan
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini 27 Maret 2026: Anjlok Rp40.000, Buyback Turun Lebih Dalam
• 6 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.