Perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah berlangsung hampir satu bulan. Iran kini melontarkan sejumlah persyaratan kepada AS agar perang berakhir.
Perang ketiga negara itu pecah sejak 28 Februari 2026. Perang diawali serangan gabungan Israel dan AS ke wilayah Iran. Serangan tersebut turut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan menembakkan roket ke sejumlah pangkalan militer AS yang berada di negara-negara Timur Tengah. Situasi terus memanas usai Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan minyak dunia.
Di tengah gejolak perang, AS lalu mengusulkan proposal perdamaian. Iran memberikan respons, namun menyertakan lima syarat untuk mengakhiri perang.
Pemerintah Iran telah menanggapi secara negatif proposal Amerika Serikat yang bertujuan untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung. Iran bersikeras bahwa perang hanya akan berakhir dengan syarat-syarat dan jadwal yang ditentukan oleh Teheran sendiri. Iran pun menetapkan lima syarat yang harus dipenuhi untuk mengakhiri perang.
Dilansir media Iran, Press TV, Kamis (26/3/2026), seorang pejabat senior bidang politik dan keamanan Iran mengatakan bahwa pemerintah Iran tidak akan membiarkan Presiden AS Donald Trump mendikte waktu berakhirnya perang. Pejabat yang mengetahui detail proposal AS tersebut, berbicara secara eksklusif kepada Press TV.
"Iran akan mengakhiri perang ketika sudah memutuskan untuk melakukannya dan ketika syarat-syaratnya sendiri terpenuhi," kata pejabat Iran yang tak ingin disebut namanya. Dia menekankan tekad Teheran untuk melanjutkan pertahanan dan memberikan "pukulan berat" kepada musuh sampai tuntutannya terpenuhi.
Menurut pejabat tersebut, Washington telah melakukan negosiasi melalui berbagai saluran diplomatik, mengajukan proposal yang dianggap Teheran sebagai "berlebihan", dan tidak sesuai dengan kenyataan kegagalan Amerika di medan perang.
Pejabat tersebut membandingkannya dengan dua putaran negosiasi sebelumnya yang diadakan pada musim semi dan musim dingin tahun 2025, dan menyebutnya sebagai penipuan.
Dalam kedua kasus tersebut, pejabat itu menekankan, Amerika Serikat tidak memiliki niat tulus untuk terlibat dalam dialog dan kemudian malah melakukan agresi militer terhadap Iran.
Oleh karena itu, Teheran mengkategorikan tawaran terbaru, yang disampaikan melalui perantara Pakistan itu, sebagai taktik untuk meningkatkan ketegangan.
(ygs/ygs)





