JAKARTA, KOMPAS.TV - Harga minyak dunia yang terus meningkat di tengah konflik geopolitik mendorong pemerintah mengkaji berbagai langkah penghematan energi, salah satunya melalui kebijakan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN).
Wacana penerapan Work From Home (WFH) dalam satu hari dalam sepekan terus jadi bahan pertimbangan pemerintah untuk menekan penggunaan BBM di tengah lonjakan harga minyak dunia. Namun, muncul pertanyaan, apakah WFH cukup efektif untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara nasional?
Para ekonom menilai kebijakan WFH saja tidak cukup jika digunakan untuk menekan penggunaan BBM. Ekonom INDEF, Abra Talattov, menilai kebijakan WFH satu hari dalam sepekan belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap penghematan BBM.
Baca Juga: [FULL] Chico Hakim dan INDEF soal Wacana WFH ASN untuk Hemat BBM, Singgung Efektivitas Kebijakan
Menurutnya, langkah ini lebih bersifat sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap potensi krisis energi, bukan solusi utama.
"Kalau bicara efektivitas tentu 1 hari sangat tidak cukup dan kita bandingkan dengan pengalaman 2020 ketika itu PSBB tahap pertama pandemi Covid-19 itu kan dilaksanakan secara masif kemudian juga lebih lama dan ada paksaan masyarakat tidak bisa keluar rumah. Jadi WFH ini saya pikir hanya sebagian kecilah langkah untuk mengurangi konsumsi," ujarnya dikutip dari tayangan Sapa Pagi KompasTV, Kamis (26/3/2026).
Berdasarkan perhitungan sederhana, penerapan WFH pada sekitar 2 juta ASN hanya mampu menghemat sekitar 17,8 juta liter BBM per bulan atau setara sekitar Rp30 miliar dari sisi subsidi. Nilai tersebut dinilai relatif kecil dibandingkan kebutuhan nasional.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal. Ia menilai efektivitas WFH hanya terasa di kota besar dan tidak berdampak luas secara nasional. Menurutnya, penghematan BBM dari kebijakan ini diperkirakan tidak lebih dari 10 persen.
Hal ini disebabkan struktur tenaga kerja Indonesia yang didominasi sektor informal, yang tetap membutuhkan mobilitas tinggi. Selain itu, sektor industri manufaktur yang menyerap tenaga kerja besar juga tidak memungkinkan penerapan kerja jarak jauh.
Selain itu, sektor manufaktur sebagai penyerap tenaga kerja terbesar juga tidak memungkinkan penerapan kerja jarak jauh karena proses produksi harus dilakukan secara langsung.
"Sebut saja misalnya bahwa ini umumnya hanya berpengaruh kepada pekerja-pekerja yang di sektor formal umumnya. Jadi, sementara kalau secara nasional orang yang berkerja di sektor formal itu 40%, itupun tidak semuanya bisa WFH. Sementara sebagian daripada orang yang di bekerja berdagang itu tetap harus bekerja bermobilitas," ujar Mohammad Faisal dikutip dari YouTube KompasTV.
Penulis : Mareta Galuh Ayuningtyas Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- bbm
- wfh
- harga minyak dunia
- kebijakan work from home
- penghematan bbm
- indef





