JAKARTA, KOMPAS.com - Halalbihalal telah lama menjadi bagian dari tradisi pascalebaran di Indonesia, termasuk di lingkungan kerja.
Kegiatan yang identik dengan saling bersalaman dan bermaaf-maafan ini kerap dianggap sebagai momen untuk mempererat hubungan antarkaryawan setelah menjalani rutinitas kerja yang padat.
Namun, di balik suasana tersebut, halalbihalal tidak hanya dipahami sebagai tradisi keagamaan atau kebiasaan sosial.
Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Lubis, menjelaskan bahwa halalbihalal merupakan tradisi khas Indonesia dan tidak ditemukan dalam praktik Lebaran di negara lain.
Baca juga: Halalbihalal di Kantor, Momen Hangat atau Sekadar Formalitas?
Ia menyebut tradisi ini mulai berkembang setelah Indonesia merdeka, ketika ada kebutuhan untuk menyatukan kembali kelompok-kelompok yang sempat berseberangan.
“Ada politisi yang berusaha menyatukan, jadi memanfaatkan peran Soekarno itu dijadikan tempat untuk mengikat kembali dari para politisi-politisi yang berseberangan," kata dia saat dihubungi, Rabu.
Momentum Lebaran kemudian dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk mempertemukan berbagai pihak dalam suasana yang lebih cair.
“Dan itu berlanjut terus sampai sekarang pejabat-pejabat negara itu membuka open house. Open house itulah halal-bihalal, sebetulnya awalnya, asal-muasalnya itu ya," ujarnya.
Baca juga: Dari Bahagia ke Hampa: Post-Holiday Blues Pekerja Usai Libur Lebaran
Masuk ke Kantor dan Jadi Rutinitas TahunanSeiring berjalannya waktu, halalbihalal tidak lagi hanya dilakukan di lingkungan pejabat atau tokoh tertentu, tetapi juga masuk ke berbagai institusi, termasuk kantor.
Tradisi ini kemudian dianggap sebagai kebiasaan baik yang diadopsi dalam kehidupan kerja dan dijadikan agenda rutin setiap tahun.
“Ya tentunya, karena itu dilihat satu praktek baik ya, tapi saya melihat memang halal-bihalal ini ya part of politic movement," kata Rissalwan.
Di kantor, halalbihalal menjadi momen untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan meninjau kembali hubungan antarpegawai. Ia bahkan menyebut kegiatan ini sudah menjadi bagian dari perencanaan kantor.
“Bahkan itu ada anggarannya tuh setahu saya, mau baik di swasta maupun di pemerintahan. Kayak di kampus misalnya itu pasti ada anggarannya tuh, untuk anggaran halal-bihalal," ujarnya.
Baca juga: Mudik Pakai Perahu Kayu ke Bekasi: Bebas Macet, Murah, tapi Penuh Risiko
Seremonial yang Sulit Menjadi Ruang PersonalRissalwan menyampaikan, di banyak kantor, halalbihalal umumnya berjalan dalam pola yang hampir sama setiap tahun.
Acara dimulai dengan sambutan pimpinan, dilanjutkan ceramah, lalu ditutup dengan saling bersalaman.





