Nasdaq Masuk Koreksi, Wall Street Terseret Ketegangan AS-Iran

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Indeks saham utama di Wall Street ditutup melemah pada Kamis (26/3), dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi perang AS-Israel dengan Iran. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik turut memperkuat kekhawatiran inflasi, mendorong pelaku pasar beralih ke aset yang lebih aman.

Mengutip Reuters, Jumat (27/3), Nasdaq mencatat penurunan paling tajam dengan anjlok lebih dari 2 persen, sekaligus mengonfirmasi masuk ke fase koreksi. Sementara itu, S&P 500 dan Dow Jones masing-masing turun lebih dari 1 persen. Penurunan ini menjadi yang terbesar bagi Nasdaq dan S&P 500 sejak 20 Januari.

Secara rinci, Dow Jones Industrial Average turun 469,38 poin atau 1,01 persen ke 45.960,11. S&P 500 merosot 114,74 poin atau 1,74 persen ke 6.477,16, sedangkan Nasdaq Composite melemah 521,74 poin atau 2,38 persen ke 21.408,08.

Tekanan pasar dipicu pernyataan Presiden Donald Trump yang menegaskan Iran harus mencapai kesepakatan dengan AS atau menghadapi serangan lanjutan. Ia juga membuka opsi penguasaan minyak Iran. Di sisi lain, pejabat senior Iran menyebut proposal AS untuk mengakhiri konflik hampir empat pekan tersebut sepihak dan tidak adil, sembari menegaskan diplomasi masih berjalan.

Setelah penutupan pasar, kontrak berjangka saham sempat memangkas kerugian. Hal ini terjadi setelah Trump menyatakan jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari hingga 6 April, atas permintaan pemerintah Iran. Ia juga menyebut pembicaraan dengan Teheran berjalan “sangat baik.”

Sebelumnya, minimnya tanda kemajuan dalam negosiasi membuat harga minyak melonjak tajam. Minyak mentah AS ditutup naik 4,6 persen, sementara Brent menguat 5,7 persen. Kenaikan ini menghapus optimisme pasar sehari sebelumnya yang sempat berharap pada de-eskalasi konflik, terutama karena gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz.

“Pergerakan bolak-balik tampaknya terjadi lebih cepat. Selain itu, kita tidak tahu dengan siapa Trump bernegosiasi,” kata Doug Beath, Global Equity Strategist di Wells Fargo Investment Institute.

“Ada banyak sinyal yang saling bertentangan, dan ini benar-benar ‘kabut perang’ ketidakpastian itulah yang mendorong kondisi ini,” imbuhnya.

Senada, Peter Tuz dari Chase Investment Counsel menilai pasar berpotensi melanjutkan pelemahan.

“Setelah tiga tahun kinerja pasar yang baik, penurunan 10 persen-20 persen seharusnya tidak mengejutkan. Kita mengalaminya tahun lalu saat proposal tarif. Namun, indikator teknikal yang buruk dapat mendorong aksi jual dan menahan minat beli hingga situasi menjadi lebih jelas,” ujarnya.

Dari sisi sektoral, hampir seluruh sektor di S&P 500 ditutup di zona merah. Sektor energi menjadi pengecualian dengan kenaikan 1,6 persen, diikuti utilitas defensif yang naik tipis 0,2 persen. Sebaliknya, sektor layanan komunikasi dan teknologi mencatat penurunan terdalam, masing-masing 3,5 persen dan 2,7 persen.

Tekanan pada sektor komunikasi terjadi setelah putusan pengadilan yang menyatakan Meta dan Google milik Alphabet bertanggung jawab dalam gugatan terkait dampak media sosial terhadap anak-anak. Saham Meta turun hampir 8 persen, sementara Alphabet melemah lebih dari 3 persen.

Di sektor teknologi, saham chip turut membebani indeks. Indeks semikonduktor Philadelphia anjlok 4,8 persen, dengan Nvidia memimpin penurunan di Dow setelah turun lebih dari 4 persen.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) sebelumnya juga memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah mulai mengganggu jalur pertumbuhan ekonomi global. Risiko penutupan Selat Hormuz dinilai dapat mendorong inflasi melonjak tajam.

Kenaikan harga minyak membuat bank sentral berada dalam posisi sulit dalam menentukan arah suku bunga. Pelaku pasar kini tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini, berbeda dari ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan dua kali penurunan sebelum konflik pecah.

Sementara itu, data ekonomi terbaru menunjukkan klaim pengangguran di AS naik tipis pekan lalu, menandakan pasar tenaga kerja masih relatif stabil. Kondisi ini memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga sambil mencermati dampak konflik.

Di sisi lain, saham perusahaan tambang emas yang tercatat di AS justru melemah lebih dari 4 persen seiring harga emas turun lebih dari 2 persen.

Di NYSE, jumlah saham yang turun melampaui yang naik dengan rasio 3,16 banding 1. Sementara di Nasdaq, rasio saham turun terhadap naik mencapai 2,47 banding 1. S&P 500 juga mencatat 20 saham menyentuh level tertinggi baru dalam 52 minggu dan delapan saham di level terendah baru.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arus Balik Lebaran Terus Meningkat, 171.651 Kendaraan Kembali ke Jabodetabek dan Jabar
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Rico Waas Pimpin Apel Pasca Idul Fitri 1447 H, Ajak ASN 'Tancap Gas' Bangun Kota dan Tingkatan Pelayanan
• 16 jam lalumediaapakabar.com
thumb
WNA Asal Liberia Diduga Tipu Korbannya dengan Modus Penjualan "Black Dollar", Diamankan saat Sedang Makan
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Program Garuda Transformasi Antarkan 32 Siswa SMAN 10 Samarinda Tembus Kampus Bergengsi Dunia
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Yaqut Jadi Tahanan Rumah Bikin yang Lain Ingin Juga
• 11 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.