REPUBLIKA.CO.ID, GAZA— Sumber-sumber khusus kepada Aljazeera Net mengungkap rincian rencana terpadu untuk pelucutan senjata di Jalur Gaza, yang diserahkan oleh mantan utusan PBB Nikolay Mladenov.
Rencana tersebut didasarkan pada pendekatan bertahap yang terdiri dari beberapa fase, dengan prinsip keselarasan dalam pelaksanaan antara langkah-langkah Israel dan komitmen Hamas, dalam kerangka jadwal yang ketat dan bertahap.
- Terungkap Begini Demo Buatan Mossad Gagal Gulingkan Rezim Iran dan Cerita Balik Layar Perang Iran
- Agresi Dua Sejoli AS dan Israel ke Iran, Menuju Perang Armageddon Akhir Zaman?
- Perang Iran Melenceng Jauh dari Rencana AS dan Israel, Ini 6 Kesalahan Kedua Sejoli Itu
Menurut dokumen yang diperoleh Aljazeera Net, rencana tersebut tidak menangani isu pelucutan senjata sebagai tindakan terpisah, melainkan mengintegrasikannya ke dalam kerangka politik dan keamanan yang komprehensif.
Hal itu didasarkan pada prinsip langkah demi langkah sehingga peralihan dari satu tahap ke tahap lain hanya dilakukan setelah pelaksanaan bersamaan dari kedua belah pihak, guna memastikan keseimbangan komitmen tetap terjaga.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Rencana tersebut didasarkan pada serangkaian prinsip umum, terutama perlunya menyelesaikan semua pengaturan pada tahap pertama secara menyeluruh, serta mengizinkan masuknya bahan-bahan pembangunan ke wilayah-wilayah yang telah diverifikasi bebas dari senjata.
Di samping mengadopsi formula pemerintahan yang didasarkan pada prinsip satu otoritas, satu hukum, dan satu senjata, rencana tersebut juga mengatur penyerahan pengelolaan sektor Gaza secara bertahap kepada Komite Nasional yang memegang kewenangan administratif dan keamanan selama fase transisi, sementara proses pendataan dan pengumpulan senjata berada di bawah pengawasan internasional dan mekanisme verifikasi lapangan.
Jadwal rencana tersebut, yang berlangsung selama beberapa bulan, menunjukkan langkah bertahap yang dimulai dengan penghentian menyeluruh operasi militer, disertai dengan tindakan kemanusiaan mendesak dari pihak Israel.
Ini sebagai imbalan atas komitmen Hamas untuk menghentikan aktivitas militernya dan memungkinkan Komite Nasional memulai kerjanya di dalam Jalur Gaza. Tahap ini dianggap sebagai tahap awal untuk mempersiapkan lingkungan lapangan dan politik guna transisi ke tahap-tahap berikutnya.




