Persaingan di Selat Hormuz Meningkat, Mengungkap Kontradiksi Strategis di Internal Partai Komunis Tiongkok 

erabaru.net
9 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, persaingan geopolitik di sekitar Selat Hormuz kembali meningkat. Sejumlah analis menyebut bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama ini menerapkan strategi “mencari keuntungan tanpa menanggung tanggung jawab” melalui keterlibatan selektif di kawasan tersebut. 

Di satu sisi, mereka bergantung pada sistem keamanan yang sudah ada untuk memperoleh keuntungan, sementara di sisi lain menghindari tanggung jawab yang seharusnya ditanggung. Namun, seiring meningkatnya konflik, pendekatan ini kini menghadapi tekanan dan ujian nyata.

Direktur Pusat Studi Asia Selatan dan Indo-Pasifik di Stockholm, Jagannath Panda, dalam tulisannya di media The Diplomat, menyatakan bahwa sikap “netral” Beijing dalam krisis ini sebenarnya adalah strategi yang diperhitungkan secara matang, yakni tetap memperoleh keuntungan ekonomi tanpa harus memikul tanggung jawab keamanan.

Artikel tersebut menilai bahwa PKT tidak ikut serta dalam operasi keamanan maritim maupun menawarkan solusi alternatif, tetapi tetap lama bergantung pada jalur ini untuk memperoleh energi dan keuntungan perdagangan. Hal ini menciptakan kontradiksi: “mengambil manfaat sendiri, sementara risiko ditanggung pihak lain.”

 “PKT tidak pernah berani menyatakan seberapa besar kepentingannya di Selat Hormuz. Yang mereka lakukan hanyalah menyalahkan Amerika Serikat, sementara bagian yang paling penting justru tidak berani mereka jawab,” kata pakar masalah Tiongkok, Li Linyi. 

Analisis lain juga menunjukkan bahwa PKT bukan sekadar “penumpang gratis.” Selain membeli minyak Iran dengan harga diskon dalam jumlah besar dan menggunakan yuan untuk mendukung perekonomian, PKT juga diduga memberikan dukungan dalam bidang teknologi dan intelijen, ini berarti telah terlibat secara mendalam dalam situasi regional di Selat Hormuz.

 “Kita melihat Iran melakukan pengeboman besar-besaran terhadap Israel. Iran tidak mungkin menggunakan sistem GPS milik Amerika Serikat, sehingga kemungkinan besar mereka menggunakan sistem BeiDou dari Tiongkok dan GLONASS dari Rusia. Saya kira semua itu disediakan oleh PKT,” kata profesor ekonomi dari Aiken School of Business, University of South Carolina, Xie Tian. 

Analisis menyebutkan bahwa meskipun PKT secara terbuka menyerukan dialog dan negosiasi, pada kenyataannya mereka mendukung Iran untuk menahan Amerika Serikat dan Israel, sehingga membuat AS terus menguras sumber daya strategisnya di Timur Tengah, dan dari situ memperoleh keuntungan geopolitik.

 “PKT tentu bersedia mendukung pihak yang bisa membuat Amerika Serikat terpecah perhatian dan kelelahan di panggung internasional. Dengan begitu, tekanan terhadap PKT dapat berkurang. Ini merupakan strategi nasional mereka,” ujar Xie Tian.

Hal  yang mesti diperhatikan adalah, seiring Amerika Serikat mengalihkan sumber daya militernya ke Timur Tengah, muncul potensi kekosongan pertahanan di kawasan Asia. Para ahli memperingatkan bahwa PKT mungkin akan melihat ini sebagai peluang strategis untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Teluk. (Hui)

Laporan oleh reporter NTD, Yixin dan Qiu Yue.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arus Balik Bakauheni Capai 391 Ribu Orang, Baru 49 Persen Kembali ke Jawa
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Korlantas Polri Bakal Terapkan One Way Lokal Jelang Puncak Arus Balik 28 hingga 29 Maret 2026
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
Prancis Tundukkan Brasil 2-1, Mbappe Bersinar di Laga Pemanasan Piala Dunia 2026
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
Percepatan Elektrifikasi Jadi Kunci, Strategi Baru Perkuat Ketahanan Energi Nasional
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Recall Hyundai Palisade, Aktivitas Penjualan Dihentikan
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.