Kita sering berbicara tentang pendidikan seolah-olah berdiri di atas fondasi yang kokoh; kurikulum diperbarui, teknologi diperkenalkan, metode pembelajaran diperbaiki. Namu ada satu hal yang kerap luput dari perhatian-fondasi manusia yang menjalankan sistem itu sendiri, yaitu guru.
Dalam bayangan dunia yang runtuh-entah karena krisis global, perang, atau disrupsi besar-kita cenderung bertanya; apakah sekolah masih akan ada? Tapi mungkin pertanyaan yang lebih mendasar adalah; siapa yang akan tetap mengajar, dan dalam kondisi seperti apa?
Mengutip apa yang dikatakan Ivan Illich, bagaimana institusi sekolah memonopoli makna belajar, tetapi ia juga secara implisit menunjukkan sesuatu yang sering tidak disadari: ketika pendidikan terlalu dilembagakan, manusia di dalamnya-termasuk guru-berisiko direduksi menjadi sekadar fungsi administratif. Guru bukan lagi subjek yang merdeka dalam mengajar, melainkan operator dari sistem yang telah ditentukan.
Di satu sisi, guru dituntut untuk menjadi segalanya: pendidik, pembimbing, evaluator, bahkan agen perubahan sosial. mereka diminta untuk membentuk karakter, menanamkan nilai, sekaligus memastikan capaian akademik siswa. Namun di sisi lain, banyak guru-terutama guru honorer-masih berada dalam kondisi kesejahteraan yang jauh dari layak.
Bagaimana mungkin kita berharap pendidikan yang bermakna juka mereka yang menjadi aktor utamanya justru hidup dalam ketidakpastian?
Banyak guru honorer di Indonesia masih menerima upah yang tidak sebanding dengan beban kerja mereka. Sebagian harus mengajar di beberapa sekolah sekaligus hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada yang tetap bertahan bukan karena sistem mendukung mereka, tetapi karena komitmen personal yang sering kali melampaui batas rasional.
Dalam perspektif Ivan Illich, ini bisa dibaca sebagai bagian dari problem institusional yang lebih besar; ketika sistem lebih fokus pada keberlangsungan struktur daripada kesejahteraan manusia di dalamnya.
Guru kemudian terjebak dalam paradoks. Mereka diharapkan menjadi agen pembebasan, tetapi bekerja dalam sistem yang membatasi ruang gerak mereka. Mereka diminta untuk menginspirasi, tetapi sering kali tidak memiliki cukup energi karena terbebani administrasi dan tekanan ekonomi. Mereka didorong untuk kreatif, tetapi diikat oleh standar dan tuntutan yang kaku.
Guru yang tidak sejahtera bukan hanya persoalan ekonomi. Ia berdampak langsung pada kualitas relasi pendidikan. Ketika guru harus memikirkan kebutuhan dasar hidupnya, ruang untuk refleksi, inovasi, dan pengembangan diri menjadi semakin sempit. Pendidikan kemudian berjalan dalam mode "bertahan", bukan "bertumbuh".
Dalam konteks dunia yang tidak pasti-atau bahkan runtuh-peran guru justru menjadi semakin krusial. Ketika sistem formal melemah, yang tersisa adalah relasi manusia; siapa yang bisa membimbing, siapa yang bisa dipercaya, siapa yang mampu membantu generasi muda memahami realitas yang berubah.
Jika sekolah sebagai institusi bisa runtuh, maka yang akan bertahan adalah manusia-manusia di dalamnya. Dalam pendidikan, guru adalah salah satu pilar utama. Tanpa guru yang kuat-secara intelektual, emosional, dan juga ekonomi-pendidikan akan kehilangan arah.
Gagasan Ivan Illich tentang descholing bisa dibaca ulang, bukan sebagai ajakan untuk menghapus sekolah, tetapi sebagai kritik untuk membebaskan manusia dari kungkungan sistem yang tidak manusiawi. Dalam hal ini, berarti tidak cukup hanya mereformasi kurikulum atau metode pembelajaran. Kita juga harus berani menyentuh aspek yang lebih mendasar; bagaimana kita memperlakukan guru.
Meningkatkan kesejahteraan guru bukan sekadar kebijakan administratif. Ia adalah pernyataan tentang nilai: apakah kita benar-benar menempatkan pendidikan sebagai prioritas, atau hanya sebagai wacana?
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi juga tentang siapa yang mengajarkan, dan dalam kondisi seperti apa mereka hidup.
Membayangkan dunia yang runtuh seharusnya membuat kita sadar bahwa sistem bisa hilang, tetapi manusia tetap menjadi penentu. Jika hari ini kita membiarkan guru bertahan dalam ketidakpastian, maka kita sedang mengambil risiko besar terhadap masa depan pendidikan itu sendiri.
Dan, ketika suatu hari kita benar-benar menghadapi krisis besar, kita akan menyadari satu hal yang paling mendasar: bahwa bukan gedung sekolah yang pertama kali runtuh, melainkan kepercayaan kita terhadap sistem yang tidak pernah benar-benar memanusiakan mereka yang menjaganya.




