Sejumlah Prodi D-3 Ini Kebanjiran Peminat di SNBT

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Serial Artikel

Prodi Apa yang Paling Diburu di UTBK SNBT 2026?

Minat saja tidak cukup untuk memilih program studi di perguruan tinggi negeri. Butuh strategi untuk mengamankan kursi di PTN idaman.

Baca Artikel

Salah seorang mahasiswa program studi diploma tiga (prodi D-3) dari Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, bersurat ke Harian Kompas (Kompas.id) beberapa tahun lalu. Suratnya berjudul ”Secarik Curahan Hati Mahasiswa Diploma III”.  

Dalam surat itu, ia menyebut banyak yang memandang prodi D-3 sebelah mata. Ini karena posisinya berada di bawah sarjana. Padahal, setelah menjalani D-3 di UNS, cara kuliahnya juga tak mudah. Justru lewat program ini si mahasiswa merasa sangat dekat dengan representasi dunia kerja.  

”Dari kuliah ini aku pun mengenal beberapa software yang nggak kukenal sebelumnya. Sistem kuliahnya pun nggak teori terus karena memang fokusnya ke praktik. Walaupun sebagian besar tugas membuat pusing juga. Maklum bentuk proyek yang terbanyak berhubungan dengan penerjemahan, seperti menerjemahkan slogan perusahaan, teks iklan, buku pedoman, teks film, dan masih banyak lagi, tetapi nggak apa karena aku menikmatinya,” ujar mahasiswa prodi D-3 Bahasa Inggris itu.

Sebagai informasi, kampus UNS yang menjadi tempat kuliah mahasiswa yang curhat tadi termasuk kampus favorit lho! Pada Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK SNBT) 2025, sejumlah prodi D-3 UNS diminati ribuan pelamar.   

Dari semua prodi D-3 yang ada, 10 di antaranya sangat ketat persaingan masuknya, rasionya 1:100 hingga 1:200. Artinya, dari 100-200 orang, hanya satu yang mendapat ”tiket masuk”. Empat dari 10 prodi itu ada di UNS, yakni Farmasi dengan 4.952 peminat, Manajemen Administrasi (3.881), Perpajakan (2.883), dan Akuntansi (2.705).   

Selain UNS, terdapat sejumlah kampus lain dengan keketatan yang juga tinggi. Data lengkap tingkat keketatan dan rasio penerimaan prodi D-3 tersaji di tabel bawah ini. Tersedia pula fitur ”pencarian” berdasarkan PTN dan prodi serta sortir pada judul kolom untuk mengurutkan data dari yang paling tinggi ataupun paling rendah.  

Menurut Dekan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Jawa Timur, Anwar Ma’ruf, pendidikan vokasi seperti D-3 dan D-4 tak sama dengan pendidikan sarjana. Vokasi mengutamakan pendekatan berbasis kompetensi sehingga dapat membekali lulusan dengan ”amunisi” yang lengkap dan siap bekerja (Kompas.id, 7 Juni 2025).  

Jebolan pendidikan tinggi vokasi lebih siap untuk berinovasi karena dibekali amunisi berupa keterampilan praktis yang selaras dengan perkembangan zaman dan kebutuhan industri. Program diploma menggabungkan pembelajaran teoretik dengan praktik langsung, seperti magang dan proyek industri.  

Contohnya, lulusan vokasi teknik mesin dapat langsung berkontribusi di sektor manufaktur, sementara lulusan pariwisata mampu mengelola destinasi wisata secara profesional.

Mengutip Laporan Kinerja Pendidikan Vokasi tahun 2023 yang dirilis Kemendikbudristek, tingkat penyerapan lulusan vokasi di dunia kerja mencapai lebih dari 80 persen dalam enam bulan pertama setelah kelulusan.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan sarjana akademik yang kerap menghadapi kesulitan mencari kerja sesuai bidang studi. Meski demikian, pernyataan tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk semua program studi sarjana.  

Tingkat penyerapan lulusan vokasi di dunia kerja mencapai lebih dari 80 persen dalam enam bulan pertama setelah kelulusan.

Dengan demikian, vokasi menjadi solusi efektif untuk mengatasi pengangguran terdidik di Indonesia. Selain itu, vokasi juga berkontribusi dalam memberdayakan komunitas lokal agar dapat berkembang mengikuti perubahan zaman.  

Karena itu, Anwar menilai, tidak berlebihan jika pendidikan vokasi disebut sebagai pionir kemajuan bangsa. Hal ini disebabkan orientasi pendidikan vokasi yang tak sekadar mencetak tenaga kerja terampil, tapi juga berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Keterampilan yang dimiliki oleh lulusan vokasi dapat digunakan untuk memberdayakan komunitas dan lambat laun dapat memperkuat ekonomi lokal ataupun nasional. 

Maka dari itu, diperlukan juga perubahan paradigma masyarakat, kebijakan yang konsisten, dan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pendidikan vokasi sebagai pionir kemajuan bangsa.  

Pendidikan vokasi, menurut dia, telah mendukung pertumbuhan ekonomi di beberapa negara industri. Banyak negara berkembang menempatkan pendidikan vokasi sebagai cara untuk bertransformasi menjadi negara yang lebih modern.   

”Vokasi bukan lagi sekadar tentang mencetak tenaga kerja terampil, melainkan tentang menciptakan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia. Dengan dukungan yang tepat, vokasi dapat menjadi pionir kemajuan bangsa, menjadikan pendidikan tinggi lebih inklusif, relevan, dan bermakna,” katanya.   

Untuk melihat lebih rinci bagaimana peta persaingan setiap program studi dan kampus ini terbentuk, hingga tingkat rasio kursi dan peluang diterima, pembaca dapat menelusurinya secara interaktif melalui eksplorasi data berikut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Top 3 News: Kondisi Sejumlah Ruas Tol Arah Jakarta di Hari Kedua Usai Libur Lebaran
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
Viral Ambulans Ditarik Parkir Rp 80 Ribu, RSUD Kudus Klarifikasi
• 11 jam laludetik.com
thumb
Melinda Aksa Tegaskan Pengelolaan TPA Harus Terukur dan Berdampak
• 18 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Seorang Nenek Curi HP dan Uang Rp 1,8 Juta Dari Pet Shop di Depok: Terekam CCTV
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Viral! Guru Ngaji di Probolinggo Banting Bocah 9 Tahun Meski Korban Merengek Minta Maaf
• 5 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.