Malaysia memasuki musim kering. Departemen Meteorologi Malaysia, MetMalaysia, memperingatkan potensi gelombang panas seiring Monsun Timur Laut yang memasuki fase akhir dan kemungkinan El Nino. Bila terjadi El Nino "kuat", terdapat risiko gelombang panas level 3 dimana suhu maksimum harian melampaui 40 derajat celcius.
Wakil Direktur Jenderal (Operasi) MetMalaysia Ambun Dindang mengatakan negara itu saat ini berada di penghujung Monsun Timur Laut, periode yang umumnya ditandai dengan berkurangnya curah hujan serta kondisi cuaca yang lebih panas dan kering, khususnya di wilayah utara dan pedalaman Semenanjung.
Berdasarkan proyeksi model cuaca lokal dan global, Malaysia diperkirakan akan mengalami pola cuaca yang lebih kering dengan curah hujan di bawah normal dalam beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, kondisi cuaca belum sepenuhnya seragam. Pada masa peralihan monsun yang diperkirakan berlangsung dari akhir Maret hingga Mei, sejumlah wilayah seperti pesisir barat dan pedalaman Semenanjung, serta Sabah dan Sarawak bagian barat, masih berpotensi diguyur hujan, terutama pada sore hingga awal malam.
"Hujan ini diperkirakan dapat sedikit menurunkan suhu di Malaysia,” ujar Ambun kepada Bernama.
Data terbaru menunjukkan variasi curah hujan di berbagai wilayah. Beberapa daerah seperti Limbang (Sarawak) serta Sandakan dan Tawau (Sabah) mencatat curah hujan di atas normal. Sementara itu, wilayah lain seperti Ipoh (Perak), Subang (Selangor), Kudat (Sabah), dan Mulu (Sarawak) berada pada level normal.
Namun demikian, wilayah lainnya sudah mengalami curah hujan di bawah normal. Di Kedah, meliputi Alor Setar, Kubang Pasu, dan Langkawi, serta Papar di Sabah, tercatat hingga 17 hari tanpa hujan. Sementara itu, Perlis mencatat 15 hari tanpa hujan hingga 23 Maret.
Ambun menjelaskan, wilayah utara Semenanjung seperti Kedah menjadi lebih rentan terhadap cuaca panas. Faktor geografis serta pola angin Monsun Timur Laut menyebabkan kelembapan lebih banyak terkonsentrasi di Pantai Timur dan wilayah selatan, sehingga bagian utara dan barat cenderung lebih kering.
Secara umum, periode Februari hingga April memang menjadi fase paling panas dalam siklus Monsun Timur Laut. Pada periode ini, suhu di wilayah utara Semenanjung cenderung meningkat, meski tetap dipengaruhi variabilitas iklim global.
Menurut Ambun, berdasarkan model iklim, frekuensi hari dengan suhu ekstrem juga berpotensi meningkat di Malaysia, terutama bila terjadi El Nino "kuat" dimana suhu permukaan laut di wilayah tropis Samudra Pasifik melebihi 1,5 derajat Celcius di atas normal. Dalam kondisi tersebut, Malaysia bahkan berpotensi mengalami gelombang panas hingga level tertinggi.
MetMalaysia mendefinisikan gelombang panas sebagai suhu maksimum harian yang melebihi 37 derajat Celsius selama tiga hari berturut-turut. Peringatan level 1 berada pada kisaran 35-37 derajat Celsius, level 2 pada 37-40 derajat Celsius, dan level 3 jika suhu melampaui 40 derajat Celsius.
Catatan historis menunjukkan gelombang panas level 3 pernah terjadi di Malaysia pada 1998. "Rekor tertinggi mencapai 40,1 derajat Celsius di Chuping, Perlis pada 1998. Suhu tinggi lainnya tercatat di Batu Embun, Pahang 39,3 derajat Celsius pada 2016, serta Alor Setar 39,1 derajat Celsius pada 1998, yang semuanya terjadi saat El Nino kuat," ujarnya.




