Jakarta: Pemerintah Tiongkok menegaskan komitmen diplomatiknya untuk menuntaskan negosiasi Code of Conduct (CoC) Laut China Selatan (LCS).
Target penyelesaian kesepakatan krusial bersama ASEAN tersebut dipatok rampung sebelum penghujung tahun 2026.
Duta Besar Tiongkok untuk ASEAN, Wang Qing menyatakan bahwa Beijing memiliki kemauan politik yang solid untuk mengakhiri kebuntuan sengketa maritim yang telah berlangsung bertahun-tahun. Komitmen ini, menurutnya, merupakan instruksi langsung yang dipertegas oleh Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi.
"Tiongkok punya kemauan politik yang kuat untuk menyelesaikan negosiasi dan konsultasi dengan ASEAN terkait CoC. Kami ingin menciptakan narasi baru tentang Laut Tiongkok Selatan," ujar Dubes Wang dalam dialog bersama media dan kelompok Think Tank di Jakarta, Kamis 26 Maret 2026. Mengubah Wajah Laut China Selatan Selama ini, kawasan Laut China Selatan kerap dipandang dunia sebagai titik api (hotspot) konfrontasi antarnegara. Melalui CoC, Tiongkok berupaya menggeser stigma tersebut menjadi kawasan yang stabil bagi jalur perdagangan global.
Ada beberapa poin utama yang menjadi fokus dalam percepatan CoC tahun ini. Pertama adalah landasan hukum yang enjadi acuan bersama untuk menyelesaikan sengketa maritim secara damai.
Kemudian stabilitas navigasi yang menjamin keamanan pelayaran komoditas global di jalur strategis tersebut. Dilanjut dengan transformasi kawasan dengan mengubah zona konflik menjadi "laut perdamaian" dan kerja sama ekonomi. Optimisme di Tengah Ganjalan Teknis Dubes Wang tidak menampik adanya titik-titik krusial yang membuat perundingan berjalan alot. Namun, ia meyakini bahwa intensitas dialog yang ditingkatkan akan membuahkan hasil positif.
"Meski perundingan tidak mudah, saya yakin selama upaya bersama terus dijalankan, CoC akan selesai. Setelah ini berhasil, hubungan ASEAN-Tiongkok akan melompat ke level yang jauh lebih baik," imbuhn Dubes Wang.
Target penyelesaian tahun ini sejalan dengan hasil Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM Retreat) pada akhir Januari 2026 lalu. Dalam pertemuan tersebut, para Menlu ASEAN menyepakati komitmen serupa untuk menuntaskan CoC sebagai prioritas utama kawasan.
Langkah ini menjadi krusial mengingat adanya klaim yang tumpang tindih antara Tiongkok dengan sejumlah negara anggota ASEAN, seperti Filipina dan Vietnam. Keberhasilan CoC tahun ini diprediksi akan menjadi tonggak sejarah diplomasi paling signifikan di Asia Tenggara dalam satu dekade terakhir.




