Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunda tenggat untuk menyerang sektor energi Iran, memberi jeda sementara bagi pasar meski ketidakpastian perang diperkirakan berlanjut hingga April.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (27/3/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Mei turun 1,4% menjadi US$106,55 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei juga merosot 1,4% menjadi US$93,20 per barel.
Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh pernyataan Trump yang menyebut meskipun Teheran meminta waktu tujuh hari, pemerintah AS memberikan tenggat 10 hari. Dengan revisi tersebut, batas waktu baru diperpanjang hingga 6 April.
Perpanjangan tenggat ini memberi ruang lebih besar untuk negosiasi sekaligus memungkinkan AS menambah kekuatan militernya di kawasan. Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, pengerahan itu mencakup Marine Expeditionary Units serta pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS.
Secara terpisah, laporan The Wall Street Journal menyebut Pentagon mempertimbangkan pengiriman hingga 10.000 tambahan pasukan darat.
Harga minyak Brent saat ini berada di jalur kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah pada Maret, setelah perang antara AS, Israel, dan Iran mengguncang kawasan Timur Tengah yang kaya minyak.
Baca Juga
- Ini 8 Jalur Perdagangan yang Penting Bagi Ekonomi Dunia, Ada Selat Hormuz
- Iran Bakal Kenakan Biaya untuk Kapal yang Lintasi Selat Hormuz
Dengan Iran hampir sepenuhnya menutup Selat Hormuz, konflik tersebut secara signifikan membatasi aliran energi yang penting bagi perekonomian global.
Menurut Ewa Manthey, ahli strategi komoditas di ING Groep NV, langkah Trump memang meredakan tekanan pasar dalam jangka pendek, tetapi risiko kenaikan harga masih besar.
Sekitar 8 juta barel per hari pasokan minyak sudah terhenti, sementara volume aliran energi yang jauh lebih besar di Teluk Persia masih rentan terganggu. Kondisi ini membuat premi risiko geopolitik pada harga minyak diperkirakan tidak akan cepat mereda.
Analis Macquarie Group Ltd., termasuk Peter Taylor, memperkirakan peluang perang berakhir pada akhir Maret sekitar 60%. Namun, masih ada kemungkinan 40% konflik berlangsung lebih lama hingga Juni. Dalam skenario tersebut, harga minyak berpotensi melonjak hingga US$200 per barel.
Mengutip laporan CNN International, dua pejabat AS menyebut, pemerintahan Trump tengah mengupayakan pertemuan Wakil Presiden JD Vance di Pakistan akhir pekan ini untuk membahas jalan keluar dari perang dengan Iran. Beberapa pejabat tinggi lainnya juga kemungkinan turut menghadiri pertemuan tersebut.
Sementara itu, melalui kantor berita Tasnim News Agency, pemerintah Iran menyatakan masih menunggu respons setelah menolak rencana perdamaian 15 poin yang diajukan AS dan menawarkan syaratnya sendiri. Salah satu syarat itu adalah pengakuan atas otoritas Teheran atas Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Sebelum perang pecah pada akhir Februari, jalur laut vital tersebut mengangkut sekitar seperlima aliran minyak global. Meski aktivitas pelayaran secara umum masih terhenti, dalam sehari terakhir terlihat sedikit peningkatan kapal terkait Iran—terutama kapal kargo curah dan pengangkut LPG—yang mencoba melintasi selat tersebut.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan Iran telah mengizinkan kapal Malaysia yang terjebak di Teluk untuk kembali ke negaranya melalui Selat Hormuz. Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis malam, Anwar mengakui hak Iran untuk melindungi kedaulatannya, namun juga mendesak penyelesaian konflik secara cepat.
Pada Kamis, Trump mengatakan dalam rapat kabinet bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi selat tersebut sebagai isyarat itikad baik. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut program asuransi untuk mendorong aktivitas pelayaran melalui jalur tersebut akan segera diluncurkan.
Sejauh Maret, kontrak berjangka Brent telah melonjak hampir 47%, sementara harga produk minyak seperti solar hingga bahan bakar jet naik lebih tinggi lagi, menambah beban bagi pelaku usaha dan konsumen. Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan kenaikan inflasi global sekaligus perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Di AS, tiga pejabat bank sentral Federal Reserve (The Fed) menyatakan kekhawatiran yang meningkat terhadap prospek ekonomi akibat perang. Gubernur The Fed, Lisa Cook, mengatakan lonjakan harga minyak telah menggeser keseimbangan risiko sehingga inflasi kini menjadi perhatian yang lebih besar dibandingkan pasar tenaga kerja.
Analis minyak dan gas di Enverus, Carl Larry, menilai pasar mulai menyadari bahwa akhir konflik masih belum pasti. Menurutnya, pasar kembali memasuki akhir pekan dengan risiko harga minyak yang masih cenderung meningkat.





