Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Ekonom: Kenaikan BBM Langkah Rasional Jaga APBN

mediaindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita

LONJAKAN harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah membuat penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri sulit dihindari. Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai kenaikan harga BBM saat ini merupakan langkah rasional guna menjaga stabilitas fiskal dan mencegah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kian membengkak.

Hendry menjelaskan harga minyak dunia kini berpotensi menembus angka di atas US$100 per barel. Angka ini jauh melampaui asumsi Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar US$70  per barel.

“Kondisi geopolitik sekarang membawa pemerintah dalam dilema yang sulit. Menahan harga berarti mempertaruhkan disiplin fiskal, sementara menaikkan harga berisiko pada inflasi. Namun, membiarkan subsidi melonjak tanpa penyesuaian akan sangat membahayakan APBN,” ujar Hendry melalui keterangannya, Jumat (27/3/2026).

Baca juga : Harga Minyak Dunia Bisa Melambung, Pemerintah Disarankan Realokasi Anggaran

Berdasarkan analisisnya, setiap kenaikan ICP sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi hingga Rp10,3 triliun. Jika pemerintah tetap menahan harga di tengah lonjakan global, defisit APBN berisiko melampaui batas aman 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Hendry memaparkan dua skenario kenaikan harga jika harga minyak dunia berada di kisaran 85–92 dolar AS per barel. Pertalite diperkirakan naik 5-10% menjadi Rp10.500 – Rp11.000 per liter (dari Rp10.000).  Solar Subsidi diperkirakan naik menjadi Rp7.150 – Rp7.500 per liter (dari Rp 6.800).

Namun, jika harga minyak dunia menetap di atas US$100 per barel dalam waktu lama, harga Pertalite diprediksi bisa menyentuh Rp12.000 per liter dan Solar hingga Rp8.200 per liter. "Tanpa penyesuaian di level ini, defisit APBN bisa meluas hingga 3,6% PDB," tambahnya.

Meski dinilai rasional secara fiskal, Hendry mengingatkan pemerintah akan ancaman stagflasi atau kondisi di mana inflasi tinggi terjadi saat pertumbuhan ekonomi melambat. Kenaikan harga BBM akan langsung menggerus daya beli masyarakat jika tidak dibarengi dengan jaring pengaman sosial yang kuat.

“Pemerintah harus menyiapkan social safety net yang tepat sasaran. Kenaikan harga tanpa kompensasi akan menyebabkan masyarakat terhimpit karena pendapatan tetap sementara pengeluaran meningkat,” tegas Hendry. (Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ASDP Imbau Masyarakat Hindari Puncak Arus Balik Lebaran pada 28 dan 29 Maret 2026
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
IHSG Turun Tajam 2 Hari, Saham Konglo dan Bank Besar Jadi Beban Lagi
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Penampungan Sampah Sementara di Tepi Kali TPU Tanah Kusir Ditutup Permanen
• 8 jam lalukompas.com
thumb
TERPOPULER: Hidangan Lebaran Serba Internasional Maia Estianty, Fakta Mengharukan Vidi Aldiano Sebelum Wafat
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Chery Q, Mobil City Car Listrik yang Bakal Bersaing dengan BYD Atto 1 dan Geely EX2
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.