Bitcoin Salip Emas di Tengah Krisis Global, Ada Apa?

viva.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Ketidakpastian global kembali menjadi tema utama di pasar keuangan dalam beberapa pekan terakhir. Memanasnya konflik geopolitik, lonjakan harga energi, hingga perubahan ekspektasi kebijakan moneter, membuat pelaku pasar mencari instrumen yang dinilai lebih aman atau menguntungkan. 

Dalam situasi seperti ini, pergerakan aset-aset utama seperti saham, emas, hingga kripto menjadi sorotan karena mencerminkan arah preferensi investor di tengah tekanan ekonomi global.

Baca Juga :
15 Cara Hemat Energi di Rumah saat Ada Ancaman Krisis, Bisa Bikin Tagihan Listrik Lebih Ringan!
Kesadaran Investasi Emas Masyarakat Meningkat, THR Jadi Modal Aset Masa Depan

Meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Di tengah kondisi tersebut, Bitcoin justru menunjukkan ketahanan dengan kenaikan sekitar 12 persen dalam 60 hari terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$70.000 - US$71.000 per Selasa, 24 Maret 2026. 

Sebaliknya indeks S&P 500 turun sekitar 4 persen, sementara harga emas terkoreksi hingga 16 persen dan mencatatkan penurunan terbesar sejak 1983 dengan menyentuh level sekitar US4.400 per ons troi. 

Kondisi ini mendorong meningkatnya perhatian investor terhadap Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai di tengah gejolak pasar. Melihat dinamika pasar ini, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa kinerja kuat Bitcoin saat krisis bukanlah fenomena baru, melainkan pola yang sudah pernah terjadi seperti pada krisis pandemi COVID-19, ketegangan AS-Iran 2020, hingga konflik Rusia-Ukraina.

"Karakteristik Bitcoin yang terdesentralisasi, dapat diperdagangkan 24 jam, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional menjadikannya relevan di tengah terganggunya stabilitas sistem keuangan akibat konflik geopolitik," kata Antony, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Jumat, 27 Maret 2026.

"Hal ini membuat Bitcoin memiliki fungsi praktis sekaligus potensi sebagai alternatif lindung nilai," sambungnya. 

Dari sisi komoditas, Greg Shearer, Kepala Strategi Logam JPMorgan, menyebutkan penurunan harga emas dipicu oleh aksi sell-off di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi. 

Tekanan ini turut didorong oleh penguatan dolar AS serta meningkatnya keuntungan dari obligasi, sehingga membuat emas kurang menarik dibandingkan aset imbal hasil dan berpotensi mengubah pola pembelian emas oleh bank sentral.

Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, meningkatkan risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak. Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. 

Baca Juga :
5 Aset Teratas untuk Trading Selama Ramadhan
3 Direksi Merdeka Gold Resource Mundur, Manajemen Segera Gelar RUPS
Harga Minyak Bisa Tembus Rp2,5 Juta per Barel, Dunia Terancam Resesi!

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPR RI Matikan Lampu pada 20.00 WIB Demi Efisiensi Energi dan BBM
• 8 jam laludisway.id
thumb
Operasi Janji Sejati 4, Gelombang 83: Iran Hujani Israel dan Aset AS dengan Rudal Canggih dan Drone
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Update Arus Balik: Contraflow Diberlakukan Dua Lajur di Tol Japek dari KM 70 - KM 47 ke arah Jakarta
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Lee Byunghun dan Han Jimin Bintangi The Koreans, Serial Adaptasi The Americans
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
H+6 Lebaran, 93 Ribu Penumpang Tiba di Bandara Soetta
• 3 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.