Kementerian Pertahanan Arab Saudi buka suara perihal laporan yang menyebut serangan Iran banyak menargetkan negara-negara Teluk. Mereka mengakui bahwa sebulan terakhir banyak drone Iran yang berhasil dicegat.
Saudi menyebut mereka menghadapi 723 drone dan rudal, dengan dua korban tewas dan beberapa lainnya luka-luka. Serangan berupa drone hingga rudal menargetkan ibu kota Riyadh dan beberapa kawasan lainnya.
Serangan-serangan dari Iran juga dirasakan langsung oleh warga Saudi atau pun warga asing yang berada di sana.
“Saya baru saja berjalan keluar bersama anak saya ketika tiba-tiba kami mendengar ledakan,” kata seorang warga Yordania di Riyadh kepada AFP pada 28 Februari.
“Orang-orang di sekitar kami melihat ke langit, mencoba memahami apa yang terjadi. Ini bukan sesuatu yang Anda harapkan terjadi di Riyadh.”
Komentar baik dari Pemerintah Saudi mau pun kesaksian warganya dirilis seiring keluarnya laporan Pusat Stimson mengenai perang di Timur Tengah.
Mereka menyebut, serangan Iran kali ini sebagian besar menargetkan infrastruktur sipil, bukan pangkalan militer AS seperti yang diklaim Iran sebagai target utama.
Saudi menjadi salah satu target utama. Fasilitas sipil seperti kilang minyak Ras Tanura, fasilitas Aramco, dan ladang minyak Shaybah menjadi sasaran Iran.
Data yang dirilis sejak 28 Februari, atau hari pertama Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran, negara anggota GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) mendapat 4.391 atau 83 persen serangan dari Teheran. Sementara serangan Israel ke negara GCC hanya sekitar 17 persen.





