Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mulai mengarahkan strategi diversifikasi pasar ekspor ke kawasan Afrika Selatan (Afsel) hingga Amerika Latin sebagai respons terhadap dampak perang AS-Israel dengan Iran yang berpotensi menekan kinerja ekspor nasional.
Budi mengungkapkan permintaan dari kawasan Timur Tengah masih berjalan, tetapi tekanan akibat perang mulai terasa terutama pada aspek logistik dan biaya distribusi.
"Ya kita sebenarnya bisa masuk ke pasar-pasar itu. Seperti pasar-pasar Afrika Selatan atau negara RCEP kemudian Asia Tenggara dan juga Amerika Latin," ujar Budi kepada wartawan di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Jumat (27/3).
Budi menjelaskan kenaikan harga energi memicu lonjakan biaya transportasi dan memaksa perubahan rute pengiriman akibat penutupan sejumlah pelabuhan.
"Jadi pengaruhnya ke logistik dan juga salah satunya rute pengalihan. Jadi kan semakin panjang sekarang karena ada beberapa port yang ditutup," kata Budi.
Berdasarkan data yang dipaparkan Budi, nilai ekspor Indonesia ke Timur Tengah pada 2025 mencapai USD 9,87 miliar atau sekitar 3,49 persen dari total ekspor nasional. Uni Emirat Arab (UEA) menjadi tujuan utama dengan kontribusi sekitar 40 persen, disusul Arab Saudi sebesar 29 persen, sementara Iran hanya sekitar 2,5 persen atau sekitar USD 250 juta.
Budi telah berkomunikasi dengan para eksportir dan memastikan permintaan ke kawasan Timur Tengah masih tetap berjalan, meski ada tekanan pada biaya logistik
"Nah tentu kalau ini gak selesai misalnya terus-menerus bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu. Tapi mudah-mudahan cepat selesai," jelas Budi.
Selain diversifikasi pasar, pemerintah juga mengandalkan program business matching untuk mempercepat transaksi ekspor, khususnya bagi pelaku UMKM.
"Kalau kita lihat pengalaman tahun lalu misalnya hasil dari business matching kan saat itu jadi kontrak. Yang tahun ini bulan Januari itu kita sudah ada kontrak USD 4,57 juta untuk UMKM bisa ekspor itu. Artinya sebenarnya memang bisa cepat gitu," terang Budi.
Kemendag tetap optimistis kinerja ekspor nasional akan tumbuh, didorong oleh pemulihan harga komoditas global seperti CPO dan batu bara yang sebelumnya sempat turun.





