Pendidikan dan Pendidihan Global: Menggagas Resiliensi Jalur Nonformal

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bumi tidak lagi sekadar memanas, bumi sedang mendidih. Sekretaris Jenderal PBB telah mengganti terminologi Global Warming menjadi Global Boiling (pendidihan global). Fenomena ini bukan sekadar statistik laporan ilmiah, melainkan realitas yang menyesakkan napas di balik jendela rumah kita. Jika menengok ke dalam sistem pendidikan formal kita saat ini, atmosfernya seolah masih membeku dalam paradigma lama yang teknokratis.

Kesenjangan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan apa yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di bumi yang berubah adalah ancaman eksistensial. Untuk menjembatani jurang ini, transformasi radikal tidak bisa hanya menunggu perubahan kurikulum formal yang sering kali birokratis dan lamban. Kita perlu menoleh pada kekuatan yang lebih lincah, organik, dan berakar rumput: Pendidikan Nonformal.

Alarm Kekeringan Panjang BMKG

Tahun ini, alarm peringatan telah berbunyi lebih keras. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa Indonesia akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Fenomena anomali iklim ini bukan sekadar masalah tidak ada hujan, melainkan ujian bagi ketahanan nasional kita. Kekeringan yang berkepanjangan akan memicu gagal panen, krisis air bersih, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan yang memperparah polusi udara.

Di sinilah letak ironinya: meskipun peringatan BMKG sudah ada di genggaman setiap orang melalui smartphone, masyarakat kita secara kolektif sering kali tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu bantuan pemerintah.

Jalur pendidikan formal kita telah gagal membekali warga dengan keterampilan adaptasi praktis untuk menghadapi kemarau panjang yang sudah di depan mata.

Kegagalan Literasi dan Extinction Debt

Masalah mendasar pendidikan kita adalah kecenderungannya untuk memisahkan manusia dari alam. Jalur formal melahirkan lulusan yang mungkin mampu menghafal siklus hidrologi untuk ujian, tetapi tidak paham cara menjaga resapan air di lingkungannya sendiri. Pendidikan lingkungan di sekolah sering kali terjebak pada aspek kognitif dangkal, tanpa pernah membangun keterikatan emosional dengan ekosistem lokal.

Padahal, kita sedang menghadapi apa yang dalam ekologi disebut sebagai Extinction Debt (utang kepunahan). Konsep ini menjelaskan bahwa dampak kerusakan lingkungan yang kita lakukan hari ini seperti pembetonan tanah tanpa sisa resapan atau penebangan pohon peneduh mungkin tidak langsung menghancurkan kita hari ini, tetapi akan meruntuhkan daya dukung alam secara total puluhan tahun mendatang. Kemarau panjang tahun ini adalah cicilan dari utang ekologis tersebut. Tanpa literasi sistem yang kuat, generasi mendatang hanya akan menjadi pewaris reruntuhan tanpa tahu cara melakukan restorasi. Di sinilah pendidikan nonformal masuk sebagai instrumen penyelamat.

Pendidikan Nonformal: Garda Terdepan Resiliensi Komunitas

Pendidikan nonformal, melalui pusat kegiatan belajar masyarakat, kelompok tani, organisasi pemuda, hingga komunitas ibu-ibu PKK memiliki fleksibilitas yang tidak dimiliki sekolah formal. Ia tidak disekat oleh dinding kelas yang kaku. Di jalur inilah, pendidikan bisa menjadi sangat kontekstual dan adaptif terhadap peringatan dini seperti yang dikeluarkan BMKG.

Dalam konteks global boiling dan ancaman kekeringan, pendidikan nonformal mampu mengubah kecemasan iklim menjadi aksi kolektif yang berdaulat.

Sebagai contoh, menghadapi kemarau panjang tahun ini, pendidikan nonformal dapat berwujud gerakan masif Pemanenan Air Hujan (Rainwater Harvesting) dan pembuatan sumur resapan atau lubang biopori di setiap rumah. Ini bukan sekadar proyek fisik; ini adalah proses belajar kolektif. Ketika warga diajarkan untuk menabung sisa air hujan terakhir sebelum kemarau mencapai puncaknya, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan manajemen risiko bencana secara mandiri.

Pilar Kurikulum Resiliensi di Jalur Nonformal

Menggagas resiliensi di jalur nonformal memerlukan tiga pilar utama yang harus diintegrasikan secara mendalam:

1. Systems Thinking (Berpikir Sistem) secara Praktis

Warga belajar harus diajak memahami keterhubungan. Tanah yang tertutup semen secara total di perkotaan bukan hanya masalah estetika, melainkan penyebab utama sumur-sumur warga cepat kering saat kemarau panjang. Pendidikan nonformal harus mampu menyederhanakan konsep ini agar setiap tindakan seperti menyisakan sedikit lahan untuk tanaman atau mengolah limbah air rumah tangga (greywater) untuk menyiram tanaman dipandang sebagai upaya menjaga keseimbangan air tanah bersama.

2. Place-Based Education (Pendidikan Berbasis Tempat)

Resiliensi tidak bisa diseragamkan. Di wilayah agraris, pendidikan nonformal harus fokus pada teknik budidaya tanaman yang hemat air dan penggunaan mulsa untuk menjaga kelembapan tanah. Di wilayah perkotaan padat, fokusnya bisa pada urban farming skala kecil untuk menjaga ketahanan pangan keluarga saat harga sayuran melonjak akibat kekeringan di daerah sentra produksi. Pendidikan nonformal menjadi wadah di mana warga saling bertukar strategi bertahan hidup yang relevan dengan kondisi geografis mereka.

3. Literasi Adaptasi: Menghadapi Krisis Energi dan Air

Pendidikan nonformal harus mengajarkan keterampilan teknis: cara memanen air, cara mendaur ulang air bekas cucian secara aman, hingga cara mengatur sirkulasi udara alami di rumah agar tidak tergantung pada energi listrik yang mahal saat suhu menyengat. Jalur nonformal memungkinkan masyarakat untuk langsung mempraktikkan hal ini, menciptakan komunitas yang tangguh meski sistem distribusi sumber daya global mengalami guncangan.

Pendidik sebagai Fasilitator Ekosistem

Pendidik di jalur nonformal baik itu penyuluh, aktivis komunitas, maupun akademisi yang turun ke lapangan, tidak boleh lagi sekadar menjadi corong informasi. Mereka harus menjadi arsitek ekosistem belajar yang menghubungkan data ilmiah (seperti data BMKG) dengan kebutuhan nyata warga. Riset tentang pola curah hujan atau varietas tanaman tahan kekeringan tidak boleh berhenti di jurnal yang berdebu. Ia harus diterjemahkan menjadi panduan praktis yang mudah dipahami oleh ibu rumah tangga dan petani kecil.

Inilah wujud nyata dari pendidikan sebagai mitigasi bencana. Menyiapkan masyarakat dengan literasi ekologi di tengah krisis iklim adalah investasi yang paling murah dan berkelanjutan. Jika pendidikan formal terlalu lambat untuk berubah, maka gerakan pendidikan nonformal harus berlari lebih kencang untuk memitigasi dampak kekeringan tahun ini.

Pendidikan kita berada di ambang pendidihan global. Prediksi kemarau panjang tahun ini dari BMKG adalah sebuah ujian sekaligus pengingat bahwa cara kita belajar harus segera berubah. Jika kita gagal mentransformasi cara kita belajar dan mengajar hari ini, kita sebenarnya sedang mempersiapkan kegagalan peradaban di masa depan.

Sudah saatnya kita membawa pendidikan keluar dari menara gadingnya, menyentuh tanah yang mulai retak karena panas, dan mulai menanam benih-benih kesadaran baru di tingkat akar rumput. Pendidikan nonformal bukan lagi sekadar pelengkap; ia adalah jantung dari gerakan resiliensi ekologis. Kita tidak sedang sekadar menyelamatkan planet; kita sedang berpacu dengan waktu untuk memastikan bahwa saat bumi mendidih dan air mengering, kita masih memiliki martabat dan cara untuk bertahan hidup bersama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Mati Lagi, Ternyata Ini Penyebabnya
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Minta Masyarakat Hemat Pakai BBM, Bahlil: Tolong Pakai Energi dengan Bijak
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Nasib Patrick Kluivert: Setelah Tersingkir dengan Timnas Indonesia, Kini Gagal Lolos Bersama Suriname ke Piala Dunia 2026
• 5 jam lalubola.com
thumb
Ayah Vidi Aldiano Bongkar Rahasia Doa saat Sang Putra Masih di Dalam Kandungan
• 2 jam lalugrid.id
thumb
Transportasi Publik Belum Optimal saat Mudik Lebaran 2026
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.