Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) produksi batu bara baru disetujui 580 juta ton pada tahun 2026.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba), Tri Winarno, mengatakan penerbitan RKAB tahun ini masih berlangsung, namun sudah hampir selesai.
"Tapi batu bara hampir finish-lah. Yang 580-an (juta ton)," ungkap Tri saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (27/3).
Sementara untuk produksi nikel, lanjut Tri, baru disetujui sekitar 150 juta ton. Kendati demikian, dia tidak menjelaskan berapa sisa RKAB yang belum disetujui.
"Nikel. Aduh, saya lupa. Tapi nikel sudah ada mungkin di atas 150 (juta ton)," imbuh Tri.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pemerintah akan memberikan relaksasi terukur bagi produksi batu bara dan nikel tahun ini, menyesuaikan kondisi harga di pasar global.
Bahlil menuturkan, jika harga komoditas sedang bagus, maka pemerintah akan meningkatkan produksinya. Namun jika harga sedang anjlok, maka targetnya akan dipangkas.
"Kita akan memperhatikan supply and demand. Kalau harganya bagus terus, kita akan memproduksi juga lebih banyak. Tetapi kalau harganya turun, kita akan menyesuaikan dengan permintaan di pasar," ungkap Bahlil.
Hal ini, kata Bahlil, juga bertujuan untuk menjaga keamanan pasokan batu bara dalam negeri yang diperlukan untuk industri hingga pembangkit listrik.
"Sekali lagi saya katakan bahwa untuk RKAB batu bara belum ada kebijakan baru dari Menteri ESDM, yang ada hanyalah relaksasi yang terukur. Tujuannya apa? Kita harus memprioritaskan kepentingan domestik kita," ungkap Bahlil.
"Kita ingin PLN kita semua harus ada, pupuk. Kemudian industri-industri dalam negeri harus semua terpenuhi. Ini yang kami akan lakukan," tambahnya.
Selain batu bara, kebijakan relaksasi produksi juga akan berlaku pada komoditas nikel. Bahlil juga berencana menaikkan Harga Patokan Mineral (HPM) untuk menambah penerimaan negara.
"Nikel juga RKAB-nya kita akan membuat keseimbangan antara supply and demand. Berapa kebutuhan pabrik kita, itu yang kita akan mengeluarkan. Supaya harganya tidak juga jatuh," tutur Bahlil.





