Kelangkaan pasokan dan tingginya harga LPG memaksa sebagian warga India beralih menggunakan kompor induksi, kompor listrik dengan teknologi elektromagnetik untuk menghasilkan panas. Seperti Indonesia, sebagian besar rumah tangga di India masih mengandalkan LPG untuk memasak, sedangkan kebutuhan energi tersebut sebagian dipenuhi dari impor.
Mengutip laporan The Indian Express, harga LPG domestik ukuran 14,2 kilogram di Delhi naik dari 853 rupee menjadi 913 rupee atau sekitar Rp 163 ribu. Sedangkan LPG untuk kebutuhan komersial berukuran 19 kilogram tercatat meningkat sekitar 115 rupee menjadi 1.884 rupee atau sekitar Rp 336 ribu. Namun, harga "menggila" di beberapa wilayah.
Di beberapa wilayah, kelangkaan memicu munculnya pasar gelap dimana LPG dijual dengan harga tinggi antara rupee 2.000-3.000 alias dua sampai tiga kali lipat harga normal. Konsumen pun terpaksa membeli dengan harga tersebut karena barang tak tersedia di agen-agen.
Sebulan berlalu, perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang meluas di Timur Tengah telah mengacaukan perdangangan internasional migas dan berbagai komoditas penting lainnya. Bagi negara-negara yang bergantung besar terhadap bahan bakar impor seperti India, situasi saat ini berdampak besar.
Pemerintah India menyatakan pasokan LPG untuk rumah tangga masih terjaga. Namun di lapangan, kenaikan harga dan distribusi yang tidak merata mulai memukul pelaku usaha kecil. Sejumlah restoran dilaporkan mengurangi jam operasional, bahkan ada yang tutup sementara.
Situasi ini membuat sebagian warga beralih ke kompor induksi. Platform e-commerce di India, Flipkart, mencatat penjualan perangkat tersebut naik hingga empat kali lipat pada pertengahan Maret. Permintaan datang dari wilayah Delhi, Kolkata, dan Uttar Pradesh.
“Kami melihat lonjakan permintaan kompor induksi yang belum pernah terjadi sebelumnya, didorong oleh kenaikan biaya dan kekhawatiran pasokan LPG,” ujar juru bicara Flipkart seperti dikutip The Indian Express.
Hal serupa juga dilaporkan Amazon. Juru bicara Amazon mengungkapkan penjualan kompor induksi meningkat lebih dari 30 kali lipat. Ketel listrik multifungsi terjual dua kali lebih banyak, sedangkan penjualan penanak nasi dan panci presto listrik meningkat hingga empat kali lipat.
Risiko Serupa Mengintai Indonesia?Menurut CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, krisis LPG menjelaskan, sekitar setengah kebutuhan LPG Indonesia dipasok dari Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait, kawasan yang turut terdampak akibat perang. Sedangkan sisanya dari Amerika Serikat.
Artinya, Indonesia termasuk negara yang dibayangi krisis LPG. “LPG ini bukan sekadar bahan bakar industri. Lebih dari 70 juta rumah tangga Indonesia menggunakannya untuk memasak, terutama tabung 3 kilogram yang disubsidi pemerintah,” ujarnya.
Bila harga gas terus naik, beban APBN akan semakin berat karena menanggung subsidi. Sebelum lonjakan harga, anggaran subsidi LPG dan BBM tahun ini ditetapkan sebesar Rp106 triliun.
IESR merekomendasikan peralihan dari penggunaan LPG 3 kg yang disubsidi pemerintah ke kompor induksi listrik. Menurut Fabby, transisi ini berpotensi menghemat anggaran subsidi hingga Rp1-2 juta per rumah tangga per tahun, sekaligus menurunkan biaya energi warga hingga 30 persen.




