Liputan6.com, Jakarta - Hari masih pagi, Jumat (27/3/2026), Sairin (35), warga yang tinggal di bantaran rel kereta kawasan Senen, Jakarta Pusat, terpaksa meninggalkan gubuknya. Gubuk yang selama ini jadi tempatnya bernaung, harus dirobohkan.
Pil pahit ini harus diterima Sairin dan beberapa warga, sehari setelah kedatangan Presiden Prabowo ke bantaran rel senen, pada Kamis, 26 Maret 2026. Keceriaan warga hari itu ternyata tak bertahan lama.
Advertisement
Malam harinya, mereka tak bisa tidur nyenyak. Ketika mendapat kabar dan harus menerima kenyataan bahwa gubuk tempat tinggalnya harus digusur oleh petugas.
"Kalau mulung begini kalau dibongkar kan tidur nggak bisa, nggak ada duit, kehujanan kepanasan," ungkap dia saat berbincang dengan Liputan6, Jumat (27/3/2026).
Mereka sempat menanyakan alasannya. Tapi tak ada jawaban. "Alasannya itu nggak dikasih tahu," sambungnya.
Sepanjang malam, mereka terjaga. Membereskan barang-barang yang dipunya. Pagi datang menyapa bersama rombongan petugas. Satu per satu gubuk warga dirobohkan.
"Sejak jam 8," kata dia.
Dia menduga, penggusuran berkaitan dengan rencana pemerintah memindahkan para warga ke rumah susun (rusun). Namun, tidak semua warga menerima rencana itu. Menurutnya, ada warga yang berkenan dipindahkan, ada pula yang tidak mau dengan alasan pekerjaan.
Termasuk Sairin yang biasa mengais rezeki dengan memulung dan menyimpan barang tersebut di sekitaran gubuknya.
"Biasa untuk nyari makannya di sini sih ya jadi gimana lah jadi lain gitu," tandas Sairin.




