Bisnis.com, JAKARTA — PT Great Eastern Life Indonesia membeberkan strategi perusahaan dengan mengandalkan instrumen yang relatif konservatif yakni sekitar 80% dialokasikan ke Surat Berharga Negara (SBN).
Finance Director Great Eastern Life Indonesia Hana menyebut selain SBN, pihaknya juga menempatkan investasi pada deposito berjangka, saham, obligasi korporasi, dan reksadana.
“Komposisi ini mencerminkan pendekatan investasi yang mengutamakan stabilitas dan kualitas aset, sekaligus menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan pengelolaan risiko,” jelasnya kepada Bisnis, Jumat (27/3/2026).
Untuk 2026, Hana menyebut Great Eastern Life Indonesia akan terus mengelola investasi dengan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang terukur.
Dia menjelaskan bahwa dalam praktiknya, perusahaan menerapkan pendekatan asset-liability management untuk memastikan kecocokan antara aset investasi dan kewajiban kepada nasabah.
“Dalam pengelolaan portofolio investasi, perusahaan menempatkan investasi pada beberapa kelas aset seperti instrumen pendapatan tetap, saham, dan instrumen pasar uang sebagai bagian dari pengelolaan risiko dan stabilitas portofolio,” katanya.
Baca Juga
- Rasio Klaim Asuransi Kesehatan Awal 2026 Makin Terkendali
- Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (27/3) Ditutup ke Level Rp16.979
- IHSG Hari Ini (27/3) Ditutup ke Level 7.0976, Profit Taking dan Geopolitik Membayangi
Kala ditanya apakah perusahaan akan lebih mendorong hasil investasi dibanding premi, Hana menilai premi dan hasil investasi perlu berjalan secara seimbang.
“Hasil investasi yang kuat menjadi penopang yang positif bagi perusahaan, sementara upaya meningkatkan premi tetap menjadi prioritas utama untuk memastikan pertumbuhan bisnis jangka panjang yang sehat dan berkelanjutan,” tuturnya.
Oleh sebab itu, lanjutnya, perusahaan akan tetap berkomitmen mendorong pertumbuhan premi secara berkelanjutan melalui penguatan produk, distribusi, dan kualitas layanan.
“Di saat yang sama, volatilitas pasar yang memberikan peluang kinerja investasi yang kuat akan terus dimanfaatkan secara prudent untuk memperkuat posisi keuangan dan mendukung pemenuhan kewajiban jangka panjang kepada pemegang polis,” pungkasnya.
Sementara itu, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat hasil investasi industri asuransi jiwa sepanjang 2025 naik signifikan sebesar 103,1% YoY menjadi 47,32 triliun. Di satu sisi, premi industri justru terkontraksi 1,8% YoY menjadi Rp181,27 triliun.




