Bisnis.com, JAKARTA – Aset kripto utama seperti Bitcoin dinilai dapat dipertimbangkan menjadi salah satu strategi diversifikasi aset di tengah gejolak geopolitik saat ini yang turut menyeret harga emas dunia melemah dari posisi puncaknya.
Logam mulia emas yang selama ini menjadi safe haven utama masih tertekan pasca mencatatkan koreksi terburuknya pada 23 Maret 2026. Posisi pelemahan ekstrem sejak 1983.
Harga emas dunia tercatat anjlok lebih dari 20% dari rekor US$5.589 ke kisaran US$4.427, dipicu penguatan dolar dan kenaikan yield obligasi. Kondisi tersebut pasca sikap hawkish The Fed, dan likuidasi masif di pasar derivatif.
Pada perdagangan hari ini di pasar spot pukul 17.28 WIB, emas diperdagangkan di kisaran US$4.429,42 per troy ounce meskipun sempat rebound ke kisaran US$4.590 pada 25 Maret 2026.
Fahmi Almuttaqin, Analis Reku mengatakan di tengah anomali harga emas tersebut, Bitcoin menunjukkan ketahanan yang sulit diabaikan. “Sejak konflik dimulai 28 Februari lalu, performa harganya telah mengungguli emas sekitar 20%,” ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (27/3/2026).
Meski demikian dalam catatan Bisnis, harga bitcoin sendiri sepanjang tahun berjalan (ytd) telah anjlok 22,54%. Aset kripto ini menyentuh titik penutupan terendah pada 24 Februari 2026 pada US$63.326,75 untuk kemudian berbalik mendaki hingga level US$74.486,24 pada 17 Maret 2026 sebelum berbalik arah hingga level hari ini.
Baca Juga
- IHSG Hari Ini (27/3) Ditutup ke Level 7.0976, Profit Taking dan Geopolitik Membayangi
- Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (27/3) Ditutup ke Level Rp16.979
- Strategi Investasi Great Eastern Life, SBN Pilihan Utama
Meskipun Bitcoin mendapatkan tekanan, lanjutnya, karakteristiknya yang borderless dan suplai yang terbatas secara algoritmik berpotensi mulai mengisi celah yang ditinggalkan emas di mata investor institusional.
Dia juga turut menyoroti potensi Ethereum khususnya pasca peluncuran produk ETF ETHB BlackRock yang menawarkan imbal hasil staking kepada para investor pasar modal AS.
Bagi investor di Indonesia, dinamika ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang nyata. Sebagai net importer minyak, kenaikan harga crude secara langsung menekan rupiah dan berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, diperparah oleh potensi berlanjutnya penguatan dolar AS menyusul sikap hawkish The Fed.
Fahmi menilai dengan kombinasi akumulasi institusional yang masih cukup agresif dan dinamika supply squeeze ini menciptakan fondasi yang semakin kokoh untuk pergerakan harga jangka panjang, kendati tidak menghilangkan potensi volatilitas tinggi jangka pendek.





