Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso
memastikan pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan bahan baku pupuk di tengah dinamika perdagangan global.
Budi mengatakan pemerintah fokus menjaga stabilitas pasokan dalam negeri melalui diversifikasi sumber impor bahan baku.
"Kita sudah antisipasi untuk bahan baku misalnya ya. Jadi terutama yang impor, kita cari alternatif pasar atau barangnya. Substitusi barangnya kan bisa aja ngambil dari negara yang ada, atau komoditas yang sama yang bisa diambil dari negara lain," ujar Budi di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, pemerintah telah menyiapkan langkah pengalihan sumber impor apabila terjadi hambatan pasokan dari negara tertentu.
Selama ini, Indonesia banyak mengimpor sejumlah komoditas strategis, termasuk energi dan bahan baku industri, dari kawasan Timur Tengah serta negara-negara Eurasia.
Baca juga: Wamentan sebut banyak negara ingin impor urea RI akibat perang Iran-AS
Baca juga: Pupuk Kujang mulai membangun pabrik NPK Nitrat untuk kurangi impor
Untuk sektor pupuk, Budi menjelaskan bahwa Indonesia selama ini memperoleh pasokan dari negara-negara Eropa Timur dan Asia Tengah, seperti Kazakhstan dan Uzbekistan.
Jika terjadi gangguan distribusi global, kata Budi, sumber impor tersebut dapat dialihkan ke negara lain dengan komoditas serupa.
"Sebenarnya kita impor (pupuk) dari Eropa Timur kan banyak. Ya kayak dari Kazakhstan, Uzbekistan, negara-negara Eurasia. Itu banyak, ya bisa dialihkan dari situ," jelasnya.
Ia menambahkan hingga saat ini pemerintah belum menerima laporan adanya kesulitan pasokan bahan baku pupuk dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor pupuk. Hal tersebut menjadi indikator bahwa kondisi pasokan masih terkendali.
Namun demikian, Budi menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan perdagangan global, terutama karena persaingan mendapatkan bahan baku pupuk di pasar internasional semakin ketat.
Budi berharap diversifikasi sumber impor mampu menjaga stabilitas ketersediaan pupuk nasional.
"Sampai sekarang sih belum ada ini ya dari pihak BUMN, belum ngobrol ke kita. Artinya dari pihak BUMN belum ada keluhan ya ke kami ya," imbuh Budi.
Baca juga: Mendag: RI cari solusi logistik ekspor ke Uni Eropa di forum WTO
Baca juga: Mendag: Perang global berkepanjangan berpotensi menekan ekspor
memastikan pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan bahan baku pupuk di tengah dinamika perdagangan global.
Budi mengatakan pemerintah fokus menjaga stabilitas pasokan dalam negeri melalui diversifikasi sumber impor bahan baku.
"Kita sudah antisipasi untuk bahan baku misalnya ya. Jadi terutama yang impor, kita cari alternatif pasar atau barangnya. Substitusi barangnya kan bisa aja ngambil dari negara yang ada, atau komoditas yang sama yang bisa diambil dari negara lain," ujar Budi di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, pemerintah telah menyiapkan langkah pengalihan sumber impor apabila terjadi hambatan pasokan dari negara tertentu.
Selama ini, Indonesia banyak mengimpor sejumlah komoditas strategis, termasuk energi dan bahan baku industri, dari kawasan Timur Tengah serta negara-negara Eurasia.
Baca juga: Wamentan sebut banyak negara ingin impor urea RI akibat perang Iran-AS
Baca juga: Pupuk Kujang mulai membangun pabrik NPK Nitrat untuk kurangi impor
Untuk sektor pupuk, Budi menjelaskan bahwa Indonesia selama ini memperoleh pasokan dari negara-negara Eropa Timur dan Asia Tengah, seperti Kazakhstan dan Uzbekistan.
Jika terjadi gangguan distribusi global, kata Budi, sumber impor tersebut dapat dialihkan ke negara lain dengan komoditas serupa.
"Sebenarnya kita impor (pupuk) dari Eropa Timur kan banyak. Ya kayak dari Kazakhstan, Uzbekistan, negara-negara Eurasia. Itu banyak, ya bisa dialihkan dari situ," jelasnya.
Ia menambahkan hingga saat ini pemerintah belum menerima laporan adanya kesulitan pasokan bahan baku pupuk dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor pupuk. Hal tersebut menjadi indikator bahwa kondisi pasokan masih terkendali.
Namun demikian, Budi menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan perdagangan global, terutama karena persaingan mendapatkan bahan baku pupuk di pasar internasional semakin ketat.
Budi berharap diversifikasi sumber impor mampu menjaga stabilitas ketersediaan pupuk nasional.
"Sampai sekarang sih belum ada ini ya dari pihak BUMN, belum ngobrol ke kita. Artinya dari pihak BUMN belum ada keluhan ya ke kami ya," imbuh Budi.
Baca juga: Mendag: RI cari solusi logistik ekspor ke Uni Eropa di forum WTO
Baca juga: Mendag: Perang global berkepanjangan berpotensi menekan ekspor





