Pentingnya Menjaga Pola Konsumsi untuk Kesehatan Ginjal

detik.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Usai menjalani rangkaian Ramadan dan perayaan Idul Fitri yang kerap diwarnai perubahan pola makan dan minum, masyarakat diimbau untuk kembali memperhatikan kondisi kesehatan, khususnya fungsi ginjal. Momentum setelah libur panjang dinilai menjadi waktu yang tepat untuk mengembalikan pola hidup sehat.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi dr. Jonny, Sp.PD-KGH mengingatkan bahwa kebiasaan selama Ramadan dan Lebaran seperti konsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis dapat berdampak pada kesehatan ginjal jika tidak segera dikendalikan.

Ginjal memiliki peran penting dalam menyaring racun dan menjaga keseimbangan cairan tubuh, sehingga sangat bergantung pada kecukupan asupan cairan. Oleh karena itu, setelah periode puasa dan libur panjang, masyarakat perlu kembali memenuhi kebutuhan cairan harian dan mengatur pola makan secara seimbang.

"Air putih harus kembali menjadi pilihan utama. Sementara konsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis perlu dibatasi agar tidak membebani kerja ginjal," kata dr. Jonny dalam keterangan tertulis, Jumat (27/3/2026).

Dia menjelaskan kebiasaan konsumsi gula dan garam berlebih dapat memicu peningkatan tekanan darah dan gula darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berisiko menyebabkan hipertensi dan diabetes yang merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis.

Baca juga: Wamendagri Tinjau Pelayanan RSUD Yowari, Tekankan Perbaikan Layanan

Berdasarkan data BPJS Kesehatan periode 2020-2025, terjadi tren peningkatan signifikan pada jumlah peserta (jiwa), kasus pelayanan, serta biaya verifikasi layanan penyakit ginjal. Secara keseluruhan, jumlah peserta meningkat dari 290.017 pada tahun 2020 menjadi 582.771 pada tahun 2025, dengan total kasus naik dari 5,63 juta menjadi 9,21 juta.

Sejalan dengan itu, biaya verifikasi juga meningkat dari Rp 5,72 triliun menjadi Rp 10,35 triliun. Secara kumulatif, total pelayanan selama periode tersebut mencapai 1,65 juta jiwa, 41,56 juta kasus dengan pembiayaan sebesar Rp 45,52 triliun.

Jika ditinjau berdasarkan jenis layanan, tindakan cuci darah/hemodialisis (HD) menjadi kontributor terbesar dalam pemanfaatan pelayanan dan pembiayaan. Jumlah peserta HD meningkat konsisten dari 123.748 jiwa pada tahun 2020 menjadi 211.753 jiwa pada tahun 2025, dengan total kasus yang juga meningkat dari 6,25 juta menjadi 9,05 juta kasus. Biaya verifikasi HD pun mengalami lonjakan signifikan dari Rp6,92 triliun menjadi Rp12,19 triliun, sehingga menjadi beban pembiayaan utama dalam penanganan penyakit ginjal.

Sementara itu, layanan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) menunjukkan tren peningkatan yang lebih gradual. Jumlah peserta CAPD meningkat dari 2.694 jiwa pada tahun 2020 menjadi 3.247 jiwa pada tahun 2025, dengan jumlah kasus yang naik dari 26.808 menjadi 29.678.

Biaya verifikasi CAPD juga meningkat dari Rp 179 miliar menjadi Rp210 miliar. Meskipun porsinya masih relatif kecil dibandingkan HD, CAPD menunjukkan potensi sebagai alternatif terapi yang terus berkembang.

Di sisi lain, layanan transplantasi ginjal masih relatif terbatas dengan jumlah tindakan yang stabil pada kisaran belasan kasus per tahun. Biaya verifikasi berada pada rentang Rp 3,5 miliar hingga Rp 6,3 miliar per tahun.

Baca juga: Dirut BPJS Kesehatan Puji Sultan HB X Gotong Royong Iuran JKN di DIY

Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan terapi pengganti ginjal terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan hemodialisis sebagai layanan yang paling banyak dimanfaatkan. Hal ini sekaligus menegaskan pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif untuk menekan laju progresivitas penyakit ginjal kronis agar tidak sampai pada tahap yang membutuhkan terapi lanjutan.

dr. Jonny menekankan bahwa peningkatan kasus yang terjadi umumnya bukan berasal dari kasus baru, melainkan akibat perburukan kondisi pasien yang sebelumnya sudah memiliki riwayat penyakit ginjal. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan sejak dini.

"Peran promotif dan preventif sangat krusial, dan paling efektif dilakukan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Pencegahan penyakit ginjal bisa dimulai sejak dini melalui edukasi gaya hidup sehat, pemeriksaan rutin tekanan darah dan gula darah, serta deteksi awal gangguan fungsi ginjal dengan pemeriksaan sederhana seperti tes urine," ungkap dr. Jonny.

Dia menambahkan dengan pemantauan yang konsisten dan intervensi sejak awal, fasilitas kesehatan tingkat pertama dapat mencegah progresivitas penyakit ginjal kronis ke tahap lanjut.

"Hal ini tentu akan meningkatkan kualitas hidup pasien sekaligus mengurangi kebutuhan perawatan di rumah sakit," pungkasnya.




(akd/ega)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bank Mandiri Siap Salurkan Tambahan Dana dari Pemerintah ke Sektor Produktif
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Bahlil Klaim Temukan Negara Baru untuk Pasok Minyak ke RI, dari Mana?
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Juru Bicara Militer Iran Klaim Mereka Membunuh 800 Tentara Amerika dan 1.321 Tentara Israel dalam Perang
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Usai Viral, Pemprov DKI Jakarta Tutup Tempat Penampungan Sementara Sampah di Bantaran Sungai TPU Tanah Kusir
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Hari Ini, Naik Transjakarta Cuma Bayar Rp 12 Buat Penumpang Pakai Aplikasi
• 18 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.