JAKARTA, KOMPAS.com - Suara pengumuman kereta bersahutan di Stasiun Manggarai, berpadu dengan langkah kaki para penumpang yang bergegas mengejar waktu.
Pintu-pintu gerbong terbuka dan tertutup cepat, seolah tak memberi jeda bagi siapa pun yang terlambat.
Beberapa hari setelah libur Lebaran usai, wajah-wajah lelah kembali memenuhi peron.
Tas ransel, pakaian kerja, dan tatapan kosong menjadi pemandangan yang kembali akrab, tanda rutinitas panjang telah dimulai lagi.
Jika sebelumnya Jakarta sempat terasa lengang, dengan perjalanan yang lebih cepat dan ruang gerak yang lebih lega, kini situasinya berbalik drastis. Kota kembali padat dalam waktu singkat.
Bagi para komuter dari Depok, Bogor, hingga Jakarta Timur, kembali bekerja bukan sekadar soal masuk kantor.
Ini adalah tentang kembali ke ritme perjalanan panjang, pulang-pergi yang bisa menghabiskan waktu hingga dua jam setiap hari.
Kenyamanan yang sempat dirasakan selama Lebaran kini hanya menjadi jeda singkat. Kota kembali bergerak cepat, dan warganya kembali dipaksa menyesuaikan diri.
Baca juga: Kembalinya Macet Jakarta Usai Lebaran, Warga Berpacu Lagi dengan Waktu di Jalan
Ritme yang Kembali Lebih CepatFahri (28), seorang pekerja IT support yang tinggal di Bogor, merasakan betul perubahan itu. Ia menyebut kepadatan penumpang KRL datang lebih cepat dari yang ia bayangkan.
“Sekarang sudah padat lagi, terutama sore hari. Kalau pulang kerja, harus siap desak-desakan seperti biasa,” ujar Fahri saat ditemui di kawasan Manggarai, Kamis (26/3/2026).
Ia mengingat betul bagaimana suasana selama Lebaran terasa jauh lebih manusiawi. Gerbong kereta tidak penuh, bahkan penumpang masih bisa duduk tanpa harus berebut ruang.
Kini, kondisi itu berubah hanya dalam hitungan hari.
Perubahan drastis tersebut memaksanya kembali mengatur strategi. Ia memilih berangkat lebih pagi untuk menghindari kepadatan ekstrem pada jam sibuk.
“Kalau telat sedikit saja, pasti sudah penuh. Jadi sekarang harus lebih pagi supaya dapat kereta yang belum terlalu ramai,” ucap dia.
Meski harus berdesakan, Fahri tetap bertahan menggunakan KRL. Baginya, moda transportasi ini masih menjadi pilihan paling rasional.
“KRL walaupun padat, setidaknya waktunya lebih bisa diprediksi dibandingkan jalan raya,” tutur dia.
Baca juga: Ini Hari Pilihan Pekerja Jakarta untuk Penerapan WFH 1 Hari Sepekan
Dua Jam di Jalan, Realitas yang Tak BerubahBagi Surya Ramadhan (35), pekerja logistik yang tinggal di Depok, fase setelah Lebaran terasa seperti “reset” singkat sebelum kembali ke rutinitas lama.
“Kalau habis Lebaran itu rasanya kayak di-reset dulu. Begitu balik ke sini, ya balik lagi ke realita,” ujarnya.
Realitas itu adalah perjalanan panjang setiap hari. Ia mengaku bisa menghabiskan waktu hingga dua jam di jalan, terutama saat kondisi lalu lintas padat.
Untuk menyiasati, Surya mencoba berangkat lebih pagi. Namun, menurutnya, cara itu tidak selalu efektif.
“Kalau semua orang juga berangkat lebih pagi, ya tetap saja padat,” ucap dia.





