Bisnis.com, BANDA ACEH — Fenomena Pink Moon akan menghiasi langit pada 1 April dan menjadi perhatian karena kaitannya dengan Hari Paskah serta beragam makna budaya di berbagai belahan dunia.
Bulan purnama ini merupakan yang pertama setelah ekuinoks musim semi, sehingga memiliki arti penting secara astronomi maupun religius. Selain itu, Pink Moon juga dikenal dengan berbagai sebutan dan tradisi yang berbeda di sejumlah budaya.
Dilansir dari Time and Date, Jumat (27/3/2026), untuk waktu Indonesia, fenomena Bulan Purnama Pink Moon akan mencapai puncaknya pada 2 April 2026 pukul 09.11 WIB. Walaupun fase puncaknya terjadi pada pagi hari, bulan tetap dapat diamati dengan jelas pada malam sebelumnya.
Nama “Pink Moon” sendiri bukan karena warna bulan berubah menjadi merah muda, melainkan berasal dari bunga phlox yang mekar pada awal musim semi di Amerika Utara.
Secara visual, bulan dapat terlihat berwarna kekuningan hingga oranye saat baru terbit di cakrawala. Space.com menjelaskan hal ini terjadi karena cahaya bulan melewati atmosfer Bumi dalam jarak yang lebih panjang. Selain itu, efek ilusi optik membuat bulan tampak lebih besar ketika berada dekat horizon.
Menariknya, Pink Moon juga memiliki banyak nama lain. Dalam tradisi Eropa kuno, bulan ini disebut “Budding Moon” atau “New Seeds Moon”. Sementara itu, suku Dakota menyebutnya “bulan ketika sungai kembali dapat dilayari” dan masyarakat Algonquin mengenalnya sebagai “bulan pecahnya es.”
Dalam tradisi Kristen, fenomena ini dikenal sebagai Paschal Moon, yaitu bulan purnama pertama setelah ekuinoks musim semi yang menjadi acuan penentuan Hari Paskah. Istilah ini berasal dari kata Latin paschal yang berkaitan dengan perayaan Paskah.
Paskah dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama musim semi, sehingga pada 2026 jatuh pada 5 April. Karena mengikuti siklus bulan, tanggal Paskah selalu berubah setiap tahun, berkisar antara 22 Maret hingga 25 April.
Selain dalam tradisi Kristen, bulan purnama April juga bertepatan dengan perayaan penting lain, seperti Passover dalam tradisi Yahudi, Bak Poya bagi umat Buddha di Sri Lanka, serta Chaitra Purnima dalam tradisi Hindu. Fenomena ini juga bertepatan dengan April Mop yang dikenal sebagai hari lelucon.
Untuk menikmati pemandangan terbaik, disarankan mengamati langit bagian timur saat matahari terbenam. Pada saat itu, bulan akan terlihat perlahan naik di cakrawala dan ditemani bintang terang, seperti Spica, Arcturus, hingga planet Jupiter yang bersinar di langit malam.





