Krisis Baru Muncul Gara-gara Perang di Iran, Satu Dunia Jadi Korban

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita
Foto: REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis baru muncul di tengah perang brutal yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Bukan cuma pasokan minyak yang terganggu, suplai helium juga tersendat. Hal ini berdampak pada rantai pasok raksasa teknologi global.

Sebagai konteks, helium digunakan untuk beberapa tahapan kunci dalam pembuatan chip, termasuk sistem pendingin, pendeteksi kebocoran, dan proses manufaktur yang presisi. Harganya sudah melonjak tajam sejak perang Timur Tengah dimulai pada 28 Februari 2026.

Pasokan helium yang merupakan produk sampingan dari pengolahan gas alam, sangat terkonsentrasi secara geografis, dengan Qatar memproduksi hampir sepertiga dari pasokan dunia, menurut data dari Survei Geologi AS.

"Kelangkaan helium adalah kekhawatiran yang sangat besar," kata Cameron Johnson, mitra senior di perusahaan konsultan rantai pasokan Tidal Wave Solutions, di Semicon China di Shanghai, salah satu pertemuan tahunan terbesar di industri ini, dikutip dari Reuters, Jumat (27/3/2026).


Pilihan Redaksi
  • Dunia Mulai Krisis Pupuk, Aluminium hingga Helium Karena Perang Iran
  • 24 Hari Perang Iran, 40 Fasilitas Energi di Timur Tengah Rusak Parah

Ia mengatakan perusahaan memiliki sedikit pilihan untuk menanggapi krisis baru ini. Selain memperlambat produksi dan memprioritaskan produk-produk penting, banyak yang berharap perang segera berakhir.

Kelangkaan helium yang berkepanjangan dapat memaksa pengurangan produksi dan berdampak luas di berbagai industri, dari elektronik hingga otomotif, menurut Johnson.

"Karena terjadi kekurangan, perusahaan mungkin akan mulai memperlambat produksi atau akhirnya menghentikan produksi, sehingga tidak dapat memproduksi chip," katanya.

"Jika itu terjadi, Anda akan melihat dampaknya pada hal-hal seperti elektronik, mobil, bahkan smartphone," ia menambahkan.

Jerry Zhang, kepala penjualan cabang China di perusahaan komponen semikonduktor Swiss VAT, mengatakan konflik di Timur Tengah telah memperketat pasokan helium dan sudah memengaruhi produksi di perusahaannya dan perusahaan lain. Ia menambahkan bahwa penundaan transportasi memperparah dampaknya.

Perusahaan tersebut sedang mencari sumber alternatif, termasuk dari Amerika Serikat.

Gangguan ini juga meluas ke rantai pasokan yang lebih luas yang terkait dengan wilayah tersebut. Zhou Limin dari unit MRSI Mycronic mengatakan beberapa bahan baku yang bersumber dari Israel mengalami penundaan, memperpanjang waktu pengiriman dan berdampak pada pelanggan karena waktu tunggu pemasok semakin panjang.

"Jelas ada dampak jangka pendek, dan itu sudah memengaruhi kami," kata Zhou.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Perkuat Fintech, Infrastruktur Pembayaran Dorong Ekonomi Digital RI

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rico Waas Pimpin Apel Pasca Idul Fitri 1447 H, Ajak ASN 'Tancap Gas' Bangun Kota dan Tingkatan Pelayanan
• 8 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Fitri Tropica Ziarah ke TPU Tanah Kusir, Berikan Dukungan Kepada Orang Tua Vidi Aldiano
• 17 jam lalugrid.id
thumb
Dinkes Lombok Timur Pastikan Belum Ada Kasus Super Flu
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Purbaya Proyeksi Ekonomi Kuartal I 2026 Tumbuh 5,5 Persen
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
5.900 Kendaraan per jam melintas di GT Cikampek Utama
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.