Dinkes Cianjur Tunggu Hasil Lab untuk Pastikan Penyebab Kematian Dokter AMW

metrotvnews.com
13 jam lalu
Cover Berita

Cianjur: Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur masih menunggu hasil pemeriksaan sampel serum darah dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan penyebab meninggalnya AMW (26), dokter muda asal Cianjur, yang diduga suspek campak.

Kepala Dinkes Cianjur Made Setiawan mengatakan AMW (26) dokter muda lulusan Universitas Indonesia (UI), bertugas sebagai dokter internship di RSUD Pagelaran sejak satu bulan terakhir. Sebelumnya, ia sempat bertugas di puskesmas.

"Kami belum bisa memastikan karena masih menunggu hasil pemeriksaan sampel darah di Labkesda Bandung. Kalau sudah keluar baru kita dapat pastikan penyebab meninggalnya dokter AMW," katanya, dilansir dari Antara, Jumat, 27 Maret 2026. 
 

Baca Juga :

 
Kemenkes Investigasi Kasus Dokter Meninggal Diduga Akibat Campak
 
Pihaknya bahkan sudah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap keluarga dan orang terdekat yang sempat melakukan kontak langsung dengan almarhum. Tujuannya untuk memastikan kondisi kesehatan mereka, termasuk memberikan vitamin.

"Kami telah melakukan pemeriksaan kesehatan dan penelusuran terhadap keluarga dan orang yang kontak langsung dengan almarhum sebelum meninggal, guna memastikan kondisi kesehatan mereka," ungkapnya.


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat Made Setiawan. ANTARA/Ahmad Fikri.


Seperti diberitakan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan pihak terkait akan melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) untuk merespons meninggalnya seorang dokter laki-laki berinisial AMW (26) di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, akibat suspek penyakit campak.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Aji Kemenkes Muhawarman, mengatakan almarhum dilaporkan mengalami gejala klinis berupa demam, ruam merah, serta sesak napas berat. Berdasarkan hasil investigasi sementara, pasien mengalami penyakit campak dengan komplikasi pneumonia yang memperburuk kondisi kesehatannya.

Kemenkes menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya tenaga medis tersebut dan dia mengatakan kasus tersebut mengingatkan bahwa penyakit campak bukan hanya dapat menyerang anak-anak. Orang dewasa yang belum pernah divaksinasi atau belum pernah terinfeksi campak tetap memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi serius dan berakibat fatal.

Aji menjelaskan pihak RSUD Cimacan telah melakukan penanganan medis sesuai standar pada 26 Maret 2026. Namun demikian, pasien kemudian dinyatakan meninggal dunia setelah pihak RS mengupayakan penanganan maksimal.

Tim kesehatan, kata Aji, akan melakukan penelusuran kontak erat, mencari sumber penularan, melakukan penilaian risiko dan memberikan vitamin A guna mencegah penularan lebih luas di wilayah setempat.

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit campak. Dia mendorong untuk segera melengkapi status imunisasi karena vaksinasi merupakan perlindungan paling efektif untuk mencegah gejala berat dan kematian akibat penyakit campak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rico Waas Pimpin Apel Pasca Idul Fitri 1447 H, Ajak ASN 'Tancap Gas' Bangun Kota dan Tingkatan Pelayanan
• 21 jam lalumediaapakabar.com
thumb
BI Catat Pertumbuhan Uang Beredar Melambat di Februari 2026
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Dedi Mulyadi Kecewa Berat, Jalan Bagus di Jabar Justru Bikin Anak SD Nekat Bawa Motor
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Sering Dipandang Sebelah Mata, Ternyata Ini ‘Mesin’ di Balik Kencangnya Pebalap RI
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Motor Bonceng Tiga Terjun ke Jurang di Jalur Kaligereng Watulimo Trenggalek
• 13 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.