Pantau - Pemerintah Indonesia fokus melakukan diversifikasi impor guna menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif.
Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan bahan baku pupuk, khususnya yang berasal dari impor.
Ia mengungkapkan, "Kita sudah antisipasi untuk bahan baku misalnya ya. Jadi terutama yang impor, kita cari alternatif pasar atau barangnya."
Strategi Diversifikasi dan Pengalihan Sumber ImporPemerintah menyiapkan strategi menjaga stabilitas pasokan dalam negeri melalui diversifikasi sumber impor bahan baku pupuk.
Budi menambahkan, "Substitusi barangnya kan bisa aja ngambil dari negara yang ada, atau komoditas yang sama yang bisa diambil dari negara lain."
Langkah pengalihan sumber impor telah disiapkan jika terjadi hambatan pasokan dari negara tertentu.
Selama ini Indonesia mengimpor komoditas strategis, termasuk energi dan bahan baku industri, dari kawasan Timur Tengah dan negara-negara Eurasia.
Untuk sektor pupuk, pasokan banyak diperoleh dari kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah, termasuk dari Kazakhstan dan Uzbekistan.
Budi menjelaskan, "Sebenarnya kita impor (pupuk) dari Eropa Timur kan banyak. Ya kayak dari Kazakhstan, Uzbekistan, negara-negara Eurasia. Itu banyak, ya bisa dialihkan dari situ."
Pasokan Nasional Masih TerkendaliPemerintah menyatakan hingga saat ini belum menerima laporan kesulitan pasokan bahan baku pupuk dari perusahaan BUMN sektor pupuk.
Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa pasokan pupuk nasional masih dalam keadaan terkendali.
Budi menyatakan, "Sampai sekarang sih belum ada ini ya dari pihak BUMN, belum ngobrol ke kita. Artinya dari pihak BUMN belum ada keluhan ya ke kami ya."
Pemerintah terus memantau perkembangan perdagangan global karena persaingan mendapatkan bahan baku pupuk semakin ketat.
Diversifikasi sumber impor diharapkan mampu menjaga stabilitas ketersediaan pupuk nasional dalam jangka panjang.




