Usianya baru delapan tahun, tetapi Natanael Wiraatmaja sudah menapaki panggung dunia. Prestasi di berbagai olimpiade sains berbuah banyak medali emas. Terbaru, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA mengundang bocah asal Bandung ini ke markas mereka.
Natanael Wiraatmaja atau biasa disapa Nael adalah siswa kelas 3 di Sekolah Dasar Kristen BPK Penabur Banda di Kota Bandung. Lahir di Bandung pada 25 Desember 2017, sulung dari dua bersaudara ini putra pasangan Immanuel Wiraatmaja dan Novita Setiawan Lim.
Saat ditemui di rumahnya pada Jumat (27/3/2026) sore, Nael baru terbangun tidur siang. Ia duduk sejenak lalu memulai kebiasaannya sejak kelas 1 SD, meraih buku dan membacanya.
Di tangannya, buku bergambar itu berkisah tentang robot dan aneka satwa. Tatapannya lekat menyusuri setiap lembar buku dengan serius.
Dalam sehari, Nael menghabiskan waktu dua hingga tiga jam untuk membaca. Sebagian besar buku pilihannya tentang ilmu sains yang memantik rasa ingin tahunya sejak kecil.
Seusai membaca, Nael melanjutkan bermain piano. Jemarinya menekan tuts yang melantunkan nada lagu komposer Beethoven berjudul ”Fur Elise”.
Ayahnya, Immanuel, yang sore itu mendampingi anaknya menuturkan, keseharian Nael tak jauh berbeda dengan anak-anak lain. Ia belajar, bermain, serta mengikuti les bahasa asing dan berenang.
Namun, ada batasan bagi Nael yang tetap dijaga. Penggunaan telepon seluler misalnya, hanya 30 menit setiap hari setelah pulang sekolah. Itupun sekadar untuk melepas penat.
”Aktivitas Nael seperti anak pada umumnya. Cuma dia sangat senang membaca sejak kecil. Terkadang kami harus memintanya untuk beristirahat sejenak,” ungkap Imanuel.
Meskipun baru berusia delapan tahun, Nael telah puluhan kali mengikuti Olimpiade Sains, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dari ajang tersebut membawanya Ia berkeliling sejumlah negara dari Asia hingga Eropa.
Bagi Nael ajang tersebut bukan semata untuk mengasah kemampuannya. Ada dorongan lainnya yang tak kalah kuat. Nael ingin melihat belahan dunia yang berbeda.
Dari 20 ajang Olimpiade Sains yang diikutinya, sebagian besar berbuah medali emas. Namun, Nael mencapainya dengan cara tak lazim.
Ia tidak pernah mengikuti les khusus dan menghabiskan waktu belajar berjam-jam sebelum menjelang lomba.
Rutinitasnya sederhana. Nael hanya belajar 30 menit setiap hari di rumah. Lalu, ia berlatih soal-soal lomba dengan ibunya yang juga gemar membaca sejak kecil.
Hal ini tak mengherankan karena Nael termasuk anak berbakat istimewa atau gifted. Hasil tes intelengsinya 135-150.
”Setiap hari Nael belajar 30 menit setelah pulang sekolah. Setelah itu bermain video game dan sejumlah kegiatan les,” ungkap Nael.
Salah satu prestasi Nael yang mengharumkan nama Indonesia ketika meraih juara dunia tingkat 2 pada Grand Final Neo Science Olympiad 2025 di Orlando, Amerika Serikat.
Berkat prestasinya itu, Nael bersama salah seorang pelajar dari Indonesia mendapatkan undangan untuk mengunjungi National Aeronautics and Space Administration (NASA) di Florida, Amerika Serikat, tahun ini.
Nael mengaku sangat senang saat berkesempatan melihat langsung peluncuran roket dalam kunjungannya ke Amerika Serikat.
”Saya sangat bangga bisa mengunjungi NASA. Tempatnya sangat luas,” ucapnya.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan cita-citanya menjadi ilmuwan di masa depan. Dia ingin kuliah di kampus impiannya, Institut Teknologi Bandung (ITB).
”Saya bercita-cita kuliah di ITB dan bisa meraih gelar profesor di bidang genetika,” harap Nael.
Novita, ibunda Nael, menceritakan, minat anaknya di bidang sains sudah terlihat sejak kelas 1 SD. Natanael mulai mengikuti berbagai kompetisi sains tingkat nasional hingga internasional, termasuk Olimpiade Sains dan terus menunjukkan konsistensi.
”Latihannya juga tidak lama, sekitar 30 menit sehari. Kadang cuma baca komik sains. Tidak selalu belajar berat,” ungkap Novita.
Menurut dia, kunci utama mendampingi anak berprestasi adalah fokus pada minat anak, konsistensi, serta menjaga agar anak tetap bahagia selama menjalani proses belajar.
”Natanael mengikuti kompetisi bukan karena paksaan, melainkan karena keinginan sendiri,” tutur Novita.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebutkan, prestasi Natanael menjadi bukti bahwa Indonesia, khususnya Kota Bandung, memiliki talenta-talenta muda yang berkelas dunia di bidang sains.
Ia menilai, pencapaian ini sejalan dengan pesan Presiden agar Indonesia menyiapkan generasi saintis sejak dini.
”Kota Bandung sangat bangga karena menjadi tempat lahir anak luar biasa seperti Natanael. Kita membutuhkan anak-anak yang sejak awal memang bercita-cita menjadi saintis,” tuturnya.
Ia pun menekankan, Natanael masih prodigi. Biarkan ia tumbuh bahagia, melewati masa remaja dan pendewasaan dengan baik. ”Hal ini supaya seluruh potensinya bisa berkembang optimal,” kata Farhan.





