El Nino "Godzilla" Menyerang, Gambut di Riau Terbakar dan Sumut Kekeringan

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Fenomena El Nino ”Godzilla” yang membuat musim kemarau datang lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera. Kebakaran hutan dan lahan sudah terjadi di Riau mencapai 4.440,21 hektar dan terus bertambah. Di Sumut, kekeringan melanda lahan pertanian. Sebagian bahkan gagal tanam.

Sumatera menghadapi ancaman kekeringan panjang setelah bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor melanda pada akhir 2025. Pada Sabtu (28/3/2026), masyarakat perkotaan seperti di Medan, Sumut, merasakan cuaca lebih panas, kering, dan gerah. Rumah tangga yang mengandalkan air tanah mulai kewalahan. Debit air semakin berkurang.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan Dwi Januanto Nugroho mengatakan, mereka tengah memantau intensif fenomena ini untuk memitigasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera.

“Langkah pengendalian karhutla kami lakukan dengan deteksi dini titik panas melalui beberapa satelit seperti Terra, Aqua, SNNP, dan NOAA20,” kata Dwi.

Dwi mengatakan, berdasarkan pantauan Satelit Terra dan Aqua pada periode 1 Januari hingga 26 Maret 2026, tercatat 625 titik panas di seluruh Indonesia. Sebanyak 42,56 persen atau 266 titik panas berada di Riau.

“Luas karhutla di Riau periode Januari hingga Februari 2026 telah mencapai 4.440,21 hektar dan terus meningkat seiring kondisi cuaca yang rentan. Hingga saat ini, regu gabungan telah berhasil melakukan pemadaman darat melalui 265 operasi," ujar Dwi.

Untuk pemadaman, Kemenhut memobilisasi 387 personel gabungan. Kekuatan utama berasal dari Manggala Agni Balai Pengendalian Karhutla Sumatera yang tersebar di Daerah Operasi (Daops) Pekanbaru, Dumai, Siak, dan Rengat. Tim diperkuat bantuan dari Daops Bukit Tempurung (Jambi), Daops Kota Jambi, dan Daops Labuhan Batu (Sumut).

Kepala Balai Pengendalian Karhutla Sumatera Ferdian Krisnanto menyampaikan, pemadaman karhutla antara lain dilakukan di Kelurahan Mundam (Dumai), lahan gambut di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Desa Merbau dan Pulau Muda (Pelalawan), Desa Talang Jerinjing (Indragiri Hulu) dan Pulau Rupat (Bengkalis).

“Kami menyekat api agar kebakaran tidak meluas kemudian memukul dan mematikan kepala api serta mematikan sumber potensi asap utama”, kata Ferdi.

Tim lapangan terkendala keterbatasan air seiring dengan menurunnya curah hujan yang mengakibatkan turunnya tinggi muka air tanah terutama pada wilayah gambut.

Untuk menjaga pasokan air, Manggala Agni dibantu masyarakat dan pemerintah daerah membuat embung air, membersihkan kanal, dan memperlebar sekat.

Selain pemadaman darat, operasi diperkuat dengan satu unit Helikopter Bell 412-SP PK/DAS Kemenhut dan dua helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Tiga helikopter itu melakukan misi patroli, pemadaman, dan evakuasi yang telah mencapai 20 jam 39 menit waktu terbang. Operasi modifikasi cuaca juga akan dilakukan.

Baca JugaAncaman El Nino ”Godzilla” dan Rapuhnya Sistem Pertanian Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, sebagian besar wilayah Indonesia di tahun ini akan mengalami musim kemarau lebih awal dan lebih panjang dari biasanya.

Menurut BMKG, sebanyak 400 zona musim (Zom) atau sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang (Kompas.id 26/3/2026).

Selain itu, sebanyak 325 Zom atau sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal atau maju dari biasanya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 114 Zom atau 16,3 persen di antaranya akan mulai memasuki musim kemarau pada April mendatang.

Wilayah tersebut meliputi Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera.

Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan terjadi pada Agustus 2026 yang mencakup 429 Zom atau sekitar 61,4 persen wilayah.

Hal ini sejalan dengan prediksi yang dikeluarkan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang mengumumkan peluang terjadinya El Nino pada periode Juni hingga Agustus 2026 sebesar 62 persen.

Selain itu, analisis dari BMKG tersebut juga turut diperkuat temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebut sejumlah wilayah Indonesia akan menghadapi El Nino dengan variasi kuat atau El Nino ”Godzilla”. Kondisi tersebut juga diperparah dengan munculnya fenomena Indian Ocean Dipole positif (IOD+).

Kondisi kemarau yang lebih kering ini dirasakan di Sumut. Di Kota Medan, musim kemarau terasa lebih kering sejak akhir Februari hingga Maret ini. Pada tengah hari, cuaca terasa lebih gerah dan panas.

Di Kabupaten Samosir, terjadi anomali cuaca. Kawasan Danau Toba itu biasanya mengalami musim hujan pada Oktober hingga April.

“Namun, sejak awal tahun hingga akhir Maret ini, hujan hanya turun beberapa kali dan hanya sebentar. Pada siang hari, cuaca terasa lebih panas dari biasanya,” kata pegiat lingkungan Danau Toba, Wilmar Simanjorang.

Wilmar mengatakan, musim kemarau yang datang lebih awal membuat banyak lahan pertanian di Samosir terbengkalai dan tidak bisa diolah. Sawah-sawah tadah hujan masih mengering dan tidak bisa ditanam. Jagung yang seharusnya lebih tahan kemarau juga gagal panen karena musim kemarau yang lebih kering.

“Sejak awal tahun, petani juga mulai menanam bawang merah karena memprediksi musim hujan akan tiba. Tanaman bawang merah akhirnya banyak yang mati karena hujan yang ditunggu tak kunjung tiba,” kata Wilmar.

Wilmar menyebut, mereka meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla yang biasanya melahap perbukitan di kawasan Danau Toba yang ditumbuhi ilalang dan pepohonan. Hingga saat ini, belum ada terpantau karhutla di kawasan itu.

Menurut Wilmar, karhutla belum terjadi karena bukit-bukit di kawasan Danau Toba sudah botak. Karhutla yang melanda tahun lalu belum pulih hingga saat ini.

Seperti sosok monster raksasa dalam layar kaca, kehadiran El Nino ”Godzilla” rentan merusak semua yang ada di sekitarnya. Mitigasi warga hingga pemerintah mesti dilakukan sejak dini agar dampaknya tidak membuat sengsara.

Baca JugaKebakaran Lahan Meluas, Udara Kota Palangka Raya Tidak Nyaman Dihirup


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saat Pimpinan KPK Dua Kali Dilaporkan ke Dewas Gara-gara Yaqut Tahanan Rumah
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Sindiran Dedi Mulyadi Soal Pungli di Tempat Wisata Jawa Barat saat Libur Lebaran, Soroti Fasilitas Pantai sampai Sampah
• 51 menit lalugrid.id
thumb
Tinjau Peternakan di Boyolali, Gibran Tekankan Vaksinasi PMK dan Hilirisasi Industri
• 6 jam laludisway.id
thumb
Pemerintah Pastikan Iran Beri Sinyal Positif, Dua Kapal Pertamina Berpeluang Melintas dari Selat Hormuz
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Kapolri dan Menhub Tinjau Bakauheni, Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026 Dipastikan Lancar dan Terkendali
• 1 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.