Sejumlah murid SD Joannes Bosco duduk dalam hening di depan bilik pengakuan dosa di Gereja Kristus Raja Baciro, Yogyakarta, Jumat (27/3/2026). Secara bergantian, mereka kemudian masuk ke bilik tersebut untuk mengutarakan dosa masing-masing di hadapan pastor guna memohon pengampunan dosa dari Tuhan.
Seusai melakukan Sakramen Pengakuan Dosa tersebut, mereka kemudian berdoa secara personal kepada Tuhan di depan goa buatan yang dibangun di salah satu sudut gereja itu. Beberapa murid lainnya menyalakan lilin di tempat doa itu hingga membuat suasana sakral semakin kental.
Pelaksanaan Sakramen Tobat tersebut diikuti oleh ratusan murid SD dan SMP Joannes Bosco. ”Sudah menjadi tradisi kami. Murid-murid selalu melakukan pengakuan dosa setiap menjelang Paskah dan Natal di sini,” kata Alva (41), guru SMP Joannes Bosco.
Pengakuan dosa menjelang Paskah merupakan salah satu ritual yang dilakukan oleh umat Katolik untuk membersihkan hati dan bersiap menyambut Paskah. Melalui sakramen itu, mereka juga berusaha memulihkan hubungan dengan Tuhan agar peringatan Paskah dapat mereka hayati sepenuhnya.
Sepekan sebelum Paskah merupakan waktu yang relatif sibuk bagi umat dan pengelola gereja Katolik. Pada pekan terakhir sebelum Paskah, umat mulai melaksanakan tradisi mempersiapkan dekorasi khusus dengan menggunakan daun palma.
Kesibukan tersebut tampak, antara lain, di Gereja Santo Antonius Kotabaru. Sejumlah warga yang tergabung dalam komunitas Tata Altar berusaha menganyam daun palma seindah mungkin agar menjadi dekorasi yang menarik.
Hiasan daun tersebut digunakan untuk misa Minggu Palma yang sekaligus menjadi awal rangkaian Pekan Suci. ”Dekorasi ini hanya dipakai saat misa Minggu Palma saja. Sesudah itu dilepas dan diganti dekorasi yang lain,” kata Cicilia (29), koordinator Tata Altar.
Selama bertahun-tahun, komunitas yang saat ini beranggotakan 25 warga dari bermacam latar belakang itu menjadi andalan bagi Gereja Santo Antonius Kotabaru ketika hari raya Paskah atau Natal menjelang.
Sejumlah tradisi dalam agama Katolik terus dipertahankan. Beberapa di antaranya telah melewati proses akulturasi dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.





