Pakar: Gejolak Energi Global Dorong Industri Otomotif Nasional Menguat

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Ketahanan energi global jadi sorotan di beberapa negara, tak terkecuali di Indonesia. Hal ini merupakan dampak dari krisis geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang saat ini masih tengah berlangsung.

Lantas apa pengaruhnya bagi industri otomotif nasional?

Pengamat Otomotif dan Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu menilai Indonesia memiliki daya tahan yang relatif kuat dibanding negara lain di kawasan ASEAN. Menurutnya, Indonesia belum berada pada posisi rentan seperti negara lain yang masih andalkan energi murni dari luar.

“Kekuatan utama Indonesia dibanding banyak negara ASEAN lain ada pada kombinasi cadangan energi, kapasitas produksi domestik, dan ruang intervensi negara yang relatif kuat,” ujar Yannes kepada kumparan, Jumat (27/3/2026).

Yannes menambahkan, stok BBM nasional memang mengalami tekanan, tetapi masih memiliki buffer pengaman. Ini karena percepatan kebijakan untuk bahan bakar alternatif seperti biofuel dengan program B40 turut menjadi bantalan tambahan.

“Kebijakan itu mampu menekan ketergantungan solar impor. Kemudian listrik negara dari PLN ditopang oleh kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) batu bara sehingga risiko krisis pasokan tidak secepat negara pengimpor energi murni,” katanya.

Ia menambahkan pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk menjaga stabilitas harga energi. Kebijakan subsidi dinilai berperan penting agar lonjakan harga tidak langsung memicu kepanikan masyarakat maupun inflasi tinggi.

“Pemerintah juga masih mampu menahan gejolak harga lewat subsidi agar tidak langsung memicu panic buying,” ucap Yannes.

Sisi lain industri otomotif, Indonesia dikatakannya sudah memiliki fondasi awal menuju transisi energi. Hal itu terlihat dari pertumbuhan kendaraan listrik, investasi baterai berbasis nikel, serta hadirnya berbagai produsen global yang mulai membangun fasilitas produksi di Tanah Air.

Ia bahkan menilai krisis energi global justru dapat menjadi momentum reposisi strategis Indonesia. Ketika harga BBM meningkat, konsumen maupun operator armada akan semakin rasional dalam menghitung efisiensi kendaraan.

“BEV (Battery Electric Vehicle), hibrida, dan biofuel mendapatkan dorongan alami dari pasar saat harga energi naik. Ini tentunya memberi posisi tawar yang lebih baik bagi Indonesia dalam menghadapi guncangan energi regional,” jelas Yannes.

Yannes menegaskan, jika momentum ini diarahkan dengan kebijakan tepat, Indonesia berpeluang menjadi hub produksi kendaraan listrik berbasis nikel di ASEAN. Elektrifikasi kendaraan niaga, transportasi publik, hingga roda dua disebut bisa menjadi pengungkit utama industrialisasi hijau nasional lebih cepat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Stephen Colbert Garap Film Baru Lord of the Rings: Shadows of the Past
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
5 Tips Ahli untuk Orang Tua Atasi Screen Time Anak
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Aksi Tipu-tipu WN Liberia Modus Black Dollar Diakhiri Polisi
• 10 jam laludetik.com
thumb
Jadwal Salat Kota Surabaya 28 Maret 2026
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kejagung Tetapkan Tersangka Kasus Tambang
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.