Ribuan pasang mata menjadi saksi tiga menit bersejarah yang menentukan nasib puluhan penumpang dan awak kapal yang terjebak dalam pembajakan pesawat Garuda DC-9 ”Woyla” di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand. Peristiwa menegangkan itu direkam baik oleh puluhan wartawan dari berbagai mancanegara, termasuk Indonesia.
”Jangan bergerak, jangan bergerak, hei… kamu jangan bergerak,” ujar salah satu juru kamera NBC dari Amerika Serikat kepada wartawan lainnya yang berdiri di atap bus. Para wartawan sengaja menyewa bus-bus untuk menjadi tempat pijakan saat meliput pembajakan pesawat Woyla.
Para perekam berita itu sudah mendatangi Bandara Don Mueang sejak Sabtu (28/3/1981) malam, sesaat setelah informasi pesawat Garuda DC-9 dibajak terdengar ke telinga wartawan. Pesawat Woyla dengan nomor penerbangan 206 ini dibajak pada pukul 10.10 WIB, 25 mil sebelum Pekanbaru. Pesawat ini direncanakan akan terbang dengan jurusan Jakarta-Palembang-Medan dengan penumpang sebanyak 48 orang dan 5 awak pesawat. Penerbangan lalu dialihkan menuju Penang, Malaysia, sebelum akhirnya mendarat di Bangkok, Thailand.
Pada hari yang sama dengan pembajakan, Pemerintah Indonesia langsung menggelar rapat untuk membahas pembebasan para sandera melalui operasi militer. Operasi penyelamatan itu dilakukan oleh Komando Pasukan Sandi Yudha atau Kopassandha (kini bernama Komando Pasukan Khusus atau Kopassus).
Minggu, 29 Maret 1981, para pembajak yang berjumlah lima orang itu bernegosiasi dengan Pemerintah Indonesia dan Thailand tentang nasib para penumpang dan kru pesawat. Para pembajak meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk membebaskan 80 orang tahanan dan uang 1,5 juta dolar AS. Permintaan itu harus segera dipenuhi dengan waktu yang telah ditentukan, disertai ancaman yang dapat membahayakan para penumpang dan kru pesawat.
Para wartawan yang berada 400 meter dari lokasi dibajaknya pesawat Garuda DC-9 ”Woyla” ini menyaksikan berbagai kejadian, salah satunya ialah saat seorang sandera berhasil melarikan diri dari pembajakan pada 29 Maret.
Sandera yang beruntung itu bernama Robert Wainwright asal Inggris. Robert kala itu berpura-pura meminta izin kepada para pembajak untuk pergi ke toilet pesawat. Sesampainya di dekat pintu darurat di area belakang pesawat, tanpa bersuara Robert membuka secara perlahan. Setelah terbuka, ia langsung meloncat dari atas pesawat dan berlari menuju ke lapangan golf yang berada beberapa ratus meter dari pesawat. Para tentara yang berjaga di kejauhan menyelamatkan Robert.
Keberhasilan Robert melarikan diri ini membuat para pembajak geram dan mengetatkan penjagaan terhadap sendera. Walaupun demikian, seorang pria asal Amerika Serikat, Carl Schneider, tetap berusaha melarikan diri dari pesawat. Pelarian itu dilakukan Carl saat petugas bandara mengisi bahan bakar pesawat. Naas, percobaan Carl diketahui oleh para pembajak yang langsung ditembak. Carl yang terbaring berlumuran darah itu lalu segera diselamatkan para perawat yang berada di sekitar bandara. Upaya penyelamatan itu dibiarkan oleh para pembajak sehingga nyawa Carl masih bisa tertolong seusai dirawat di rumah sakit di Bangkok.
Senin, 30 Maret 1981, pasukan Kopassandha secara rahasia telah tiba di Bangkok. Mereka menggelar simulasi singkat sebelum operasi dilaksanakan. Pemerintah Thailand telah memberikan izin kepada Pemerintah Indonesia untuk melakukan operasi militer untuk membebaskan para sandera. Izin tersebut disambut dengan operasi senyap dan terarah.
Selasa, 31 Maret 1981 dini hari, para wartawan yang berjaga tidak melihat hal-hal yang mencolok di sekitar pesawat. TV Nasional Thailand pun terus-menerus menyiarkan secara langsung perkembangan situasi di sekitar pesawat Garuda DC-9 Woyla. Sekitar pukul 02.30 WIB para wartawan yang berada di sekitar 400 meter dari pesawat melihat sosok yang keluar dari dalam semak-semak. Sosok itu semakin banyak dan berbaris rapi dengan formasi dua baris. Mereka adalah pasukan Kopassandha yang tengah menggelar operasi pembebasan bernama Opepegaba atau Operasi Pembebasan Pembajakan Garuda di Bangkok.
Pergerakan mereka sangat senyap. Bahkan, wartawan AFP bernama Glenn Garven menyebutnya sebagai ”Sekelompok orang yang berjalan-jalan saat piknik di hari Minggu”. Namun, saat pasukan mulai mendekati pesawat, mereka langsung bergerak cepat menuju kanan dan kiri pintu pesawat bagian sayap. Dalam hitungan detik, pasukan menyerbu masuk ke dalam pesawat. Rentetan suara tembakan disertai teriakan membuat malam itu menjadi mencekam. Para wartawan yang berada 400 meter dari pesawat merekam setiap kejadian.
Kepulangan para sandera pembajakan pesawat Garuda DC-9 "Woyla" di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Selasa (31/3/1981). KOMPAS/CHRYS KELANA.
Isteri Achmad Kirang, anggota Pasukan Anti Teroris Indonesia, tak kuasa menahan tangis di kediamannya, Kamis (2/4/1981) saat melihat mendiang yang gugur pada usaha pembebasan sandera pesawat DC-9 "Woyla" Garuda di Bangkok. KOMPAS/KARTONO RIYADI.
Empat awak pesawat DC-9 Garuda "Woyla" yang dibajak Sabtu 28 Maret lalu. Dari arah jarum jam: Lidya yang sedang memegang foto almarhum Captain-pilot Herman Rante, Retna, Deliyanti, dan Co-pilot Hedhy Juwantoro, Selasa (7/4/1981). KOMPAS/DUDY SUDIBYO.
Hanya dalam tiga menit, Kopassandha berhasil melumpuhkan lima pembajak dan menyelamatkan puluhan sandera baik penumpang maupun kru pesawat. Musril Hanafiah yang merupakan salah satu sandera bercerita, Kopassandha sangat berhati-hati dan tepat sasaran saat melakukan penyerbuan.
Saat terjadinya penyerbuan, keadaan pesawat minim cahaya, hanya ada dua sampai tiga lampu baca saja yang menyala. Baik pembajak maupun sandera bercampur aduk. Walau demikian, Kopassandha dapat mengenali pembajak dengan bantuan para penumpang.
Setelah penyerbuan selesai, lima pembajak tewas ditembak, sementara ko-pilot Garuda dan seorang anggota Kopassandha meninggal setelah dirawat akibat luka yang dideritanya.
Operasi singkat itu membuat decak kagum para wartawan yang meliput. ”Seperti di film saja,” ujar Terry Schmit, wartawan foto Sygma yang meliput operasi ini. Tidak hanya Terry yang kagum dengan keberhasilan operasi itu. Kekaguman juga terpancar di hampir seluruh wartawan yang meliput.
Tidak hanya para wartawan saja yang memuji keberhasilan Kopassandha dalam pembebasan pesawat Garuda DC-9 Woyla, sejumlah negara pun turut memberikan pujiannya kepada operasi ini. Di antara negara yang memuji operasi pembebasan ini ialah Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat.
Keberhasilan ini mengangkat nama Kopassandha di mata dunia. Indonesia menjadi negara ketiga yang berhasil melakukan operasi pembebasan sandera dari pembajakan yang tidak banyak menelan korban jiwa dengan menggunakan kekuatan tentara.





